
RTCCTV-Live kuliah-Prerecording majlis-
Thursday, July 31, 2008
Wednesday, July 30, 2008
Tanya jawab -Zuhur Imam Zaman a.f
Diterbitkan Mei 5, 2008 Tanya Jawab
Disini ada beberapa pertanyaan yang pernah disampaikan kepada Alamah Thabatabai Quddisa sirruh, tentang Imam Zaman af.
pertanyaan pertama: Bagaimana caranya kita sampai dan dapat bertemu dengan Imam Zaman af ?
Jawab: Bukankah Imam Zaman af pernah bersabda : jadilah kalian orang baik, maka aku akan datang menemui kalian.
Tanya Jawab;
Pertanyaan kedua: Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa:
لا یظهر الا بظهور الفساد
Dia tidak muncul (tampak), kecuali dengan munculnya kerusakan, dalam hadis lainnya disebutkan:
یملأ الأرض قسطا و عدلا بعد ما ملئت ظلما و جورا
Dia akan memenuhi bumi ini dengan keserasian dan keadilan sebagaimana bumi ini dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan. Pertanyaannya adalah apakah dengan adanya hadis dan riwayat semacam ini kita tidak dapat menyimpulkan bahwa kita tidak boleh menghalangi atau melawan kebatilan dan kerusakan yang terjadi di muka bumi ini, sehingga dapat dijadikan sebagai lahan untuk mempercepat kemunculan Imam Mahdi?
Jawab: Kelaziman dari pertanyaan tersebut adalah menghalalkan sesuatu yang haram dan diperbolehkan untuk meninggalkan seluruh kewajiban. Dan sudah dapat dipastikan bahwa hal semacam itu tidak diinginkan oleh Imam Zaman af.
Pertanyaan ketiga: Apakah riwayat yang mengatakan bahwa pada zaman pemerintahan Imam Mahdi af semua orang akan masuk Islam (menjadi muslim) itu dapat dibenarkan?
Jawab: Allah swt berfirman:
اذ قال الله یا عیسی اني متوفيك ورافعك اليّ و مطهرك من الذين كفروا وجاعل الذين اتبعوك فوق الذين كفروا الي يوم القيامة ثم اليّ مرجعكم فأحكم بينكم فيما كنتم فيه تختلفون
“Ingatlah ketika Allah swt berfirman: Hai Isa, sesungguhnya aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepadaku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantara kamu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya.”
Tampaknya riwayat diatas yang dijadikan pertanyaan itu, bertentangan dengan ayat quran yang menegaskan bahwa وجاعل الذين اتبعوك فوق الذين كفروا الي يوم القيامة dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat , karena beberapa kalimat ini memberitakan bahwa orang-orang kafir akan tetap eksis dan ada sampai hari kiamat. Dan dalam sebuah riwayat juga dikatakan bahwa Imam Mahdi af mengambil upeti dari mereka.[]
Diambil dari kitab Dar Mahzare Allamah Thabathabai [Sahib Zaman]
6 Tanggapan ke “Tanya Jawab”
Pengumpan untuk Entri ini Alamat Jejakbalik
1. 1 handaga Mei 6, 2008 pukul 2:07 pm
Salam
Saya punya dua pertanyaan,
(1)
Benarkah jika ada seseorang yang mengabarkan kepada orang lain bahwa dirinya pernah bertemu dengan Imam Mahdi af, (baik dalam mimpi ataupun secara fisik) berarti bohong?.
(2)
Bagaimanakah sistem informasi Imam Mahdi af untuk mengabarkan kendatangannya sehingga dapat diketahui oleh seluruh ummat di seluruh pelosok bumi dalam waktu singkat?
2. 2 haidaryusuf Mei 7, 2008 pukul 7:49 pm
Salam,
Terimakasih atas pertanyaan yang antum layangkan.
Adapun berkenaan dengan jawaban pertanyaan pertama adalah sebagai berikut: Seperti yang pernah saya katakan di komentar tentang masjid Jamkaran bahwa mimpi itu secara pasti dapat kita benarkan bila datangnya dari para nabi atau wali Allah swt. Namun jika selain dari mereka maka hal itu bisa benar dan bisa tidak benar (dusta). Karena setiap berita yang sampai kepada kita mengandung dua unsur, unsur kebenaran dan unsur kebohongan. Tolak ukur untuk membenarkan atau mendustakannya kita lihat pribadi orang yang melihat dan yang menyampaikan berita tersebut. Karena Imam Mahdi af tidak dapat ditemui kecuali hanya dengan orang-orang yang baik.
Adapun jawaban pertanyaan kedua adalah: Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat bahwa beliau muncul pada hari Jumat di Kabah antara Rukun dan Maqam Ibrahim, dan ketika beliau muncul maka Malaikat Jibril akan mengumandangkan suaranya dengan menyerukan penduduk bumi akan kemunculan beliau. Dan bergembiralah orang-orang yang mendengarkan dan mengikuti seruannya. Yang mana seruan itu akan didengar oleh seluruh penduduk alam.
Secara pasti bagaimana mekanismenya saya tidak tahu, namun yang jelas ada tanda2 kemunculan beliau itu pasti ada sebagaimana tanda yang pernah terjadi pada nabi Allah Isa as ketika dilahirkan. Yang jelas di dalam riwayat dikatakan bahwa jika di bagian timur terlihat api yang memercik bagaikan anak panah dan warnanya kuning dan merah selama tiga - tujuh hari, maka tunggulah kemunculan beliau. Jika Allah berkehendak maka itulah dan Dia Maha Mulia dan Maha Bijaksana.
Ini mungkin yang dapat saya katakan. Wawllahu A’lam. Wassalam.
3. 3 handaga Mei 8, 2008 pukul 5:32 am
Salam,
Berkenaan dengan arah munculnya tanda berupa api seperti antum ungkapkan dalam kalimat
……jika di bagian ‘timur’ terlihat api yang memercik bagaikan anak panah dan warnanya kuning dan merah selama tiga - tujuh hari……..
Selama ini bumi kita dikatakan sebagai benda berbentuk lingkaran, arah mata angin ditentukan berdasarkan posisi kutub magnet bumi. Arah timur dari satu belahan bumi yang berlawanan akan terlihat sebagai arah barat dari belahan bumi yang lain.
Jika tanda-tanda tersebut dapat dilihat oleh setiap penduduk bumi dengan mata telanjang, apakah hal ini berarti tanda itu muncul dari sumber yang berasal dari berbagai tempat di bumi atau di angkasa, di luar bumi? Atau apakah ada definisi arah ‘timur’ yang lain?
4. 4 haidaryusuf Mei 10, 2008 pukul 6:41 am
Salam,
Untuk menentukan bahwa esensi kata api yang dimaksud di sini, apakah benar2 api yang akan memancar terbentang dibagian timur dikarenakan benturan angin, atau semburan gas bumi atau serbuan dari serangan musuh yang diumpamakan sebagai api, itu semua adalah perkiraan-perkiraan yang sempat diperbincangkan oleh sebagian para ulama. itu semua karena ketidak jelasan akan pengertian yang disebutkan dari sumber riwayat tersebut.
Begitu pula berkaitan dengan arah timur yang antum tanyakan. Sebagian ulama meyakini bahwa arah timur yang dimaksud adalah belahan bumi Khurasan zaman dahulu yang mencakup bebearapa negara seperti sebagian negara India, Irak, Afganistan Iran dan bagian timur tengah lainnya, juga sebagian negara Turki dan Syiria. Namun semua itu juga hanya perkiraan-perkiraan yang disampaikan oleh sebagian para ulama. Karena daerah tempat ini adalah tempat yang strategis untuk penyebaran islam dalam waktu yang relatif singkat. Apalagi warna kuning dan merah adalah warna kulit yang dimiliki oleh orang2 yang tinggal di negara tersebut. Ini yang dapat saya ungkapkan. Wawlahu a’lam.
Wassalam.
5. 5 handaga Mei 10, 2008 pukul 12:14 pm
Salam,
Masih seputar tanda-tanda kemunculan Imam Mahdi (af), Adakah keterkaitan antara Kisah Zulkarnain, Yakjuj & Makjuj (seperti yang dikisahkan dalam Al-Quran Surah 18:83-9 8) dengan tanda-tanda kemunculan Imam Mahdi(af). Dapatkah antum menyampaikan isi Kitab Tafsir Al-Mizan berkenaan dengan kisah di atas?
6. 6 haidaryusuf Mei 20, 2008 pukul 3:55 am
Salam,
saya minta maaf karena ada kesibukan lain yang menghambat saya untuk membalas pertanyaan Antum, namun alhamdulillah akhirnya saya dapat membalasnya hari ini dan mudah-mudahan apa yang saya bawakan ini dapat bermanfaat dan menambah sedikit dari maklumat yang Antum miliki. Amin.
Adapun kaitannya kisah Zulkarnain, Yakjuj dan Makjuj dengan tanda-tanda akhir zaman, dapat diperkirakan kebenarannya. Karena dalam riwayat dikatakan bahwa Imam Mahdi akan muncul jika bumi ini sudah benar2 rusak. Dan Yakjuj dan Makjuj adalah sebuah kaum perusak yang akan muncul pada akhir zaman, baik dengan terbukanya bendungan yang dibuat oleh Zulkarnain atau bendungan yang dimaksud bisa saja hanya kinayah seperti yang disebut dalam kitab tafsir Al-Mizan. Yaitu dikarenakan kebudayaan manusia semakin meningkat akhirnya dengan sendirinya kaum perusak itu terkekang untuk tidak dapat melancarkan serangan-serangannya atau dikarenakan jumlah mereka semakin sedikit sehingga tidak dapat melancarkan serangan sedemikian rupa sehingga untuk merintis kembali mereka memerlukan waktu yang sangat panjang untuk memuulainya dari nol. Dan masih banyak lagi perkiraan-perkiraan lainnya.
Mengenai kisah Zulkarnain, Yakjuj dan Makjuj, adalah termasuk dari permasalahan-permasalahan yang tidak prinsipal yang jika seorang tidak mengetahuinya pun tidak ada mudhorrot baginya, namun menurut tafsir Al- Mizan kisah tersebut adalah sebagai berikut: dalam jilid ke 13 hal 387 Allamah Tabatabai menyampaikan beberapa pendapat para ahli tentang Zulkarnain. bahwa siapa sebenarnya Zulkarnain itu. Yang dapat dipastikan adalah bahwa dia adalah seorang yang beriman dan taat kepada Tuhannya, dan dia mengadakan perjalanan menuju belahan bumi bagian barat sampai ke tempat terbenamnya matahari dan dia melihat matahari tenggelam kedalam air, di sana dia menemukan suatu kaum. Dan dia meneruskan perjalannannya dari barat menuju belahan bumi bagian timur sampai ke tempat terbitnya matahari dan di sana juga dia menemukan sebuah kaum yang mana Allah tidak memberikan penghalang antara mereka dan matahari. Dan perjalanan selanjutnya sampai ke tempat dua bendungan dan dia menemukan sebuah kaum yang hampir2 ucapan mereka tidak dapat difahami. Dikarenakan mereka mengadu kepadanya mengenai kejahatan Yakjuj dan Makjij. Dan memintanya untuk membuatkan penghalang berupa sebuah bendungan yang dibikin diantara dau gunung. Dan diapun menerimanya dan meminta kepada mereka untuk mengumpulkan belahan-belahan besi untuk dipakainya sebagai dasar pembuatan bendungan tersebut untuk menghalangi serangan Yakjuj dan Makjuj. Ini yang dapat difahami dalam Alquran.
Adapun mengenai siapa Zulkarnain dan Yakjuj dan Makjuj para mufassir dan para ahli sejarah saling berbeda pendapat mengenai sosok zulkarnain ada beberapa pendapat bahwa Zulkarnain adalah Iskandar dan ternyata Iskandar sendiri ada dua sosok yang pertama adalah Iskandar yang perdana menterinya adalah nabi Hidr dan Iskandar yang lain adalah Iskandar yang perdana menterinya adalah seorang Filosof bernama Aristoteles. Ada lagi yang menegatakan bahwa Zulkarnain adalah sebuah laqab seperti Firaun bagi raja-raja mesir, tapi Zulkarnain digunakan untuk para pengusa di daerah Yaman. Karena penguasa di sana sebuatan awalnya memakai kata Zu, yang dalam bahasa arabnya memiliki arti sahib atau pemilik. Ada juga yang mengatakan bahwa Zulkarnain adalah seorang yang bernama Kurusy. Dan menurut Allamah keseluruhannya tidak dapat dijadikan pegangan karena memiliki kelemahan2an dalam argumen-argumen yang dikemukakan. Yang jelas hal itu di kembalikan lagi pada orang yang hidup pada priodenya.
Begitu pula tentang Yakjuj dan Makjuj. Yang dapat dipastikan adalah bahwa Yakjuj dan Makjuj adalah sebuah kaum yang besar yang membuat kerusakan di bumi. Dan para sejarahwan meyakini bahwa Yakjuj dan Makjuj adalah kaum Monggol dan kaum Tartar disebabkan tiada kaum yang membuat kerusakan terbesar di pertengahan pertama abad ketujuh kecuali mereka.
Begitupula dengan bendungan yang dibikin oleh Zulkarnain untuk menghalau serangan kaum Yakjuj dan Makjuj, sampai sekarang masih belum diketahui secara pasti namun ada juga yang meyakini bahwa bendungan yang dibikin oleh Zulkarnain itu adalah tembok Cina. Namun ini juga ditepis karena tembok Cina tidak sedikitpun menggunakan belahan besi seluruhnya terbuat dari batu. Ada juga yang mengatakan bahwa bendungan Marab yang berada di Yaman diyakini sebagai bendungan Zulkarnain, ini juga ditolak karena tujuan bendungan tersebut dibuat untuk menampung air bukan untuk menghalau serangan atau kejahatan kaum perusak.
Sebenarnya masih banyak ketidak jelasan-ketidak jelasan yang ditemukan dan dapatdipertanyakan dalam kisah Zulkarnain ini, namun akhirnya beliau juga lebih condong untuk mengambil pandangan yang mengatakan bahwa Kurush adalah Zulkarnain karena banyak dari para penulis sejarah yang meyakini hal tersebut dan hampir dari seluruh kehidupannya mirip dengan Zulkarnain yang disifatkan oleh Alquran. Begitu pula bendungan yang ia bikin diantara laut Kaspian menunjukkan bahwa dia adalah Zulkarnain. Seperti apa yang diyakini pula oleh penulis tafsir Al-Amtsal. Wawlahu A’lam.
Filsafat Penciptaan
Mengkaji Filsafat Penciptaan menurut al-Qur’an
Pada pembahasan kali ini kita akan mencoba menganalisa beberapa ayat al-Quran yang di dalamnya telah menyiratkan tentang filsafat, arah, sasaran, maksud, dan tujuan penciptaan, di antaranya, “Sesungguhnya Aku ingin menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 30)
“Dan Dia-lah yang menjadikanmu para khalifah di bumi.” (Qs. Al-An’am [6]: 165)
Berdasarkan ayat-ayat di atas yang diturunkan berkaitan dengan penciptaan manusia, dikatakan bahwa tujuan dari penciptaan manusia adalah dijadikannya manusia sebagai khalifah dan penerus Tuhan.
Dan yang dimaksud dengan penerus Tuhan adalah bahwa Tuhan meletakkan sebagian dari sifat yang dimiliki-Nya dalam diri manusia sebagai sebuah amanah dimana jika manusia mengaktualkan potensi yang dimilikinya ini, maka mereka akan bisa meraih tingkatan tertinggi dari kesempurnaan. Oleh karena itu, berdasarkan ayat-ayat tersebut, tujuan dari penciptaan tak lain adalah manusia sempurna.
Pada ayat lain Allah Swt berfirman, “Katakanlah, “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. Al-An’am [6]: 162)
Berdasarkan ayat di atas, kehidupan, ibadah bahkan kematian seorang manusia adalah berasal dari Tuhan, oleh karena itu, dalam seluruh keadaan kehidupannya manusia harus melakukan penghambaan kepada Tuhan.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Qs. Al-Dzariyyat [56]: 56)
Ayat di atas menunjukkan bahwa tujuan dari penciptaan manusia adalah untuk ibadah dan penghambaan Tuhan, yaitu manusia harus menyerahkan dirinya untuk melakukan penghambaan kepada Tuhan dan tidak menundukkan kepalanya kecuali di hadapan-Nya. Dengan mencermati ayat di atas, kita akan menemukan beberapa poin berikut:
1. Pada ayat ini, redaksi “… melainkan supaya mereka menyembah-Ku” menunjukkan dan menegaskan bahwa “makhluk atau ciptaan adalah penyembah Tuhan”, dan bukan bermakna bahwa “Dia adalah yang disembah oleh makhluk”, karena hal ini bisa dilihat dari ayat yang mengatakan “… supaya mereka menyembah-Ku“, bukannya mengatakan “Akulah yang menjadi sembahan mereka”.[1]
2. Yang dimaksud dengan ibadah di sinipun bukanlah ibadah takwiniyyah (seluruh ciptaan), karena sebagaimana kita ketahui seluruh eksistensi alam penciptaan ini, masing-masing melakukan ibadah dengan bahasa takwiniyyah mereka, dalam salah satu ayatnya Allah Swt berfirman,“Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit-langit dan apa yang ada di bumi” dan jika yang dimaksud oleh al-Quran dari ibadah adalah ibadah takwiniyyah, maka ayat ini tidak hanya akan menyebutkan jin dan manusia saja. [2]
Pada tempat lain Dia berfirman, “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 156)
Ayat di atas menyatakan bahwa selain manusia berasal dari Tuhan, Dia juga merupakan tempat tujuan manusia, karena awal manusia adalah dari Tuhan dan akhirnya pun menuju ke arah-Nya. Sesuai dengan ayat ini dikatakan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah melakukan perjalanan ke arah Tuhan. Dengan mencermati ayat di atas, kita akan mengetahui bahwa kalimat yang disebutkan di atas adalah “kembali kepada-Nya” dan bukan “kembali di dalam-Nya” sehingga hal ini tidak akan mengarahkan kita pada yang dilakukan oleh sebagian para sufi, dimana mereka meyakini bahwa tujuan penciptaan manusia adalah kefanaan dalam Tuhan, melainkan kita harus mengatakan bahwa manusia memiliki perjalanan ke arah-Nya, yaitu perjalanan ke arah kesempurnaan yang tak terbatas. Dengan gerakan kesempurnaannya inilah manusia harus menarik dirinya ke arah Tuhan.
“Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).” (Qs. Al-Maidah [5]: 18)
“Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua makhluk).” (Qs. An-Nur: 42, dan Qs. Fathir [35]: 18)
“Dan hanya kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.” (Qs. Fathir [35]: 4, dan Qs. Al-Hadid [57]: 5)
“Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.” (Qs. As-Syura [42]: 53)
“… kemudian hanya kepada Tuhan-mulah kamu akan kembali.” (Qs. As-Sajdah [32]: 11, dan Qs. Al-Jatsiyah [45]: 15)
“Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, ….” (Qs. Al-Maidah [5]: 48, dan Qs. Hud [7]: 4)
“Hai manusia, sesungguhnya kamu menuju kepada Tuhan-mu dengan kerja dan usaha yang sungguh-sungguh, maka kamu pasti akan menjumpai-Nya.” (Qs. Al-Insyiqaq [84]: 6)
Ayat di atas pun menempatkan manusia sebagai pekerja keras yang bergerak dan berusaha menuju ke arah sumber keberadaan.
Berdasarkan ayat di atas, manusia berada dalam pergerakannya menuju Tuhan, dan keseluruhan aturan-aturan al-Quran pun merupakan perantara untuk sampai pada tujuan ini, yaitu perjalanan menuju ke arah Tuhan. Di sini akan muncul sebuah pertanyaan yaitu apa makna dan mafhum dari perjalanan ke arah Tuhan dan berdekatan dengan-Nya?
Apakah manusia yang terbatas dan tercipta dari tanah ini memang bisa berdekatan dengan Tuhan yang metafisik dan memiliki wujud mutlak? Dalam menjawab pertanyaan ini harus dikatakan: dikarenakan hakikat wujud setara dengan kesempurnaan dan Tuhan pun merupakan wujud murni dan kesempurnaan yang mutlak, maka setiap eksistensi yang berada dalam tingkatan wujud lebih tinggi, pasti akan berada dalam posisi yang lebih dekat dengan Tuhan. Oleh karena itu, dengan memiliki kewujudan yang lebih sempurna melalui iman dan kesadaran diri, hal ini akan bisa mengantarkan manusia pada posisi yang semakin dekat kepada Tuhan.
Ringkasnya, manusia dikatakan tengah melakukan perjalanan ke arah Tuhan karena dia telah melewati tahapan-tahapan wujud, dan wujud yang dimilikinya ini telah mengantarkannya ke arah keberadaan mutlak. Demikian juga dengan yang dimaksud dari ibadah dan penghambaan yang juga merupakan tujuan penciptaan, tak lain adalah supaya manusia dengan pilihan yang telah diputuskannya sendiri, mau melakukan usahanya untuk membersihkan dan mensucikan dirinya lalu melintasi tahapan kesempurnaan dan berjalan ke arah kesempurnaan mutlak.
Setiap manusia yang mengaktualkan potensi-potensi keberadaannya bergerak menuju interaksi dengan Tuhan, maka dalam kondisi ini, ia akan berada dalam posisi yang lebih dekat dengan Tuhan. Dan kedekatan dengan Tuhan inipun memiliki tahapan dimana setiap individu yang melakukan perjalanan lebih panjang dalam lintasannya menuju Tuhan, maka ia pun akan mendapatkan kedekatannya yang lebih banyak pula dengan Tuhan.
Eksistensi yang ditempatkan di sepanjang kesempurnaan dan berada dalam lintasan menanjak ke arah yang tak terbatas, dengan setiap langkah positif yang diambilnya untuk menuju ke arah-Nya, akan menjadi satu langkah untuk lebih ‘dekat’ lagi kepada-Nya.
Pada surah Hud ayat 118, Allah Swt berfirman, “Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk (menerima rahmat) itulah Allah menciptakan mereka.”
Ayat di atas mengatakan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah rahmat, yaitu manusia diciptakan untuk menerima rahmat Tuhan, sebagaimana firman-Nya, “Dan untuk (menerima rahmat) itulah Allah menciptakan mereka.” (Qs. Hud: 119)
Di sini akan muncul pertanyaan tentang apa yang dimaksud dengan rahmat. Dengan ibarat lain, apa yang dimaksud dengan pernyataan yang mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk rahmat?
Jawabannya adalah bahwa yang dimaksud dengan rahmat tak lain adalah bimbingan dan hidayah Ilahi yang akan menjadi bagian dari kondisi manusia supaya mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Dengan perkataan lain, rahmat adalah hidayah takwiniyyah dan tasyri’iyyah yang menyebabkan pertumbuhan dan kesempurnaan manusia.
Dengan uraian ini, antara ayat di atas dengan ayat “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Qs. Al-Dzariyyat [56]: 56) tidak ada sedikitpun perbedaan, karena dengan melalui ibadah dan rahmat, seluruh potensi wujud manusia bisa ditinggikan dan akan memperoleh kesempurnaan akhir wujud dirinya.
Allah Swt berfirman, “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan ‘Arasy-Nya berada di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, …” (Qs. Hud [11]: 7) “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (Qs. Kahf [18]: 7) “Yang menciptakan mati dan hidup supaya Dia mengujimu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Qs. Mulk [67]: 2)
Berdasarkan ayat-ayat di atas, Tuhan menciptakan manusia supaya bisa diketahui manakah manusia yang baik dan manakah yang buruk. Manakah manusia yang melakukan perbuatan yang baik dan shaleh serta manakah yang melakukan perbuatan yang tercela dan tak shaleh.
Menurut ayat-ayat ini, masing-masing manusia yang memiliki perbuatan lebih baik, berarti dia telah lebih mendekatkan dirinya pada tujuan penciptaan. Pada dasarnya, ayat-ayat ini menempatkan tujuan penciptaan manusia pada lintasan manusia menuju ke arah kesempurnaan keberadaannya.
Nabi, Imam, dan Tujuan Penciptaan
Pada hadis-hadis Islam dikatakan bahwa Rasulullah Saw merupakan tujuan dari penciptaan alam, dan Tuhan menciptakan alam ini karena beliau.
Dalam salah satu hadis qudsi Allah Swt berfirman, “Jika engkau tiada, maka niscaya Aku tidak akan menciptakan gugusan bintang.”[3]
Pada hadis qudsi yang lain, Allah Swt berfirman, “Andai bukan karena Muhammad (saw), maka Aku tidak akan menciptakan dunia maupun akhirat, demikian juga Aku tidak akan menciptakan langit, bumi, arsy, singgasana, lauh, qalam, surga dan neraka. Dan andai bukan karena Muhammad Saw, maka wahai para manusia, Aku tidak akan menciptakan kalian,”[4] demikian juga pada hadis lainnya Allah Swt berfirman, “Aku menciptakan benda-benda untukmu dan Aku menciptakanmu untuk-Ku.”[5]
Syeikh Shaduq Ra meriwayatkan dari Rasulullah Saw yang bersabda kepada Imam Ali As, “Wahai Ali, seandainya bukan karena kita, maka Allah tidak akan menciptakan manusia dan juga tidak akan menciptakan surga, neraka, maupun langit atau bumi”[6]
Dikarenakan Rasulullah Saw dan Imam Ali As merupakan individu-individu manusia yang paling sempurna, dan tujuan penciptaan pun adalah terwujud dan tercapainya manusia paling sempurna, maka seakan Rasulullah Saw dan Imam Ali As merupakan arah, tujuan, dan sasaran penciptaan segala realitas.
Demikian juga sesuai dengan apa yang termaktub dalam surah Al-Dzariyyat ayat ke 56 dimana Allah Swt berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”, dimana tujuan dari penciptaan adalah ibadah, bisa dikatakan bahwa karena tahapan paling tinggi dan paling sempurna dari ibadah hanya akan terwujud dari Rasulullah saw dan Imam Ali As, maka kesimpulannya, Rasulullah Saw dan Imam Ali As tergolong sebagai tujuan dan filsafat penciptaan.
Berdasarkan ayat ke tiga puluh surah al-Baqarah, Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Aku ingin menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” pun bisa dikatakan bahwa Rasulullah saw dan Imam Ali As merupakan tujuan penciptaan, karena hanya Rasulullah saw dan Imam As As lah yang mampu mengaktualkan potensi-potensi internalnya dan berahlak dengan ahlak Ilahi serta layak untuk memegang peran sebagai “khalifatullah”.
Definisi Ibadah
Ketika dikatakan bahwa tujuan dari penciptaan adalah ibadah, sebagian menyangka bahwa yang dimaksud dengan ibadah adalah hanyalah melaksanakan amalan-amalan dan ritual-ritual yang bernama doa seperti shalat, puasa dan bermacam-macam zikir.
Apakah hakikat ibadan dan penyembahan hanyalah seperti ini? Tentu saja tidak. Karena doa hanyalah bagian dari ibadah. Berdasarkan pandangan dunia al-Quran, setiap gerakan dan perbuatan positif yang dilakukan oleh manusia merupakan ibadah, dengan syarat, gerak dan perbuatan tersebut harus dilakukan berdasarkan pada motivasi untuk mendekat pada rububiyyah dan dilakukan berlandaskan pada nilai-nilai kewajiban Ilahi.
Oleh karena itu, definisi dari petani yang pada pertengahan malam menggunakan tangan-tangan kasarnya untuk mengairi perkebunan dan lahan pertaniannya demi menyejahterakan kehidupannya dan keluarganyam para pekerja yang bergelimang dengan suara-suara bising mesin-mesin pabrik dari pagi hingga malam hari, dokter yang berada di ruang operasi dengan seluruh daya dan konsentrasinya untuk menyelamatkan jiwa manusia, seorang dosen yang melakukan observasi dan pengkajian pada tengah malam untuk memecahkan kesulitan pemikiran manusia, dan sebagainya, jika dilakukan dengan niat dan tujuan Ilahi, maka setiap saat baginya berada dalam keadaan ibadah.
Ringkasnya, tujuan dari semua amal, perbuatan dan perilaku manusia adalah untuk Allah Swt, yaitu manusia akan sampai pada tahapan dimana bahkan makan, munum, tidur,, hidup dan matinya, keseluruhannya adalah untuk Allah Swt, sebagaimana dalam salah satu firman-Nya, “Katakanlah, “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. Al-An’am [6]: 162)
Gerakan-gerakan dan pikiran-pikiran yang ditekankan sebagai doa dalam Islam adalah supaya manusia menjaga penghambaannya dan mengarahkan dirinya kepada Tuhan dengan kesadaran yang dimilikinya. Doa tidaklah sebagaimana yang dipersangkakan oleh sebagian pihak tenang ketiadaannya interfensi dalam perbuatan Tuhan, melainkan merupakan perantara dan wasilah untuk memperkuat kehendak dan cahaya harapan dalam menghilangkan hambatan-hambatan yang menghalangi jalan pertambahan tingkat manusia, ketika seluruh pintu di hadapan manusia telah tertutup dan manusia berhadapan dengan jalan buntu dan kehilangan harapan, maka doa merupakan satu-satunya wasilah untuk kegembiraan dan kebahagiaan ruh dan berpaling dari kesedihan dan bergerak ke arah jurang yang mendaki menuju kesempurnaan, Dengan melalui doa, manusia akan mencuci karat-karat dan pencemaran yang terdaoat di dalam dirinya dan mempersiapkan dirinya hingga melangkah pada lintasan kesempurnaan.
Hakikat doa merupakan “terbangnya” ruh ke arah Yang Dicintai dan “terbangnya” hamba ke arah Tuhan, sebuah “penerbangan” dari tingkatan yang sangat rendah yang tanpa batas ke arah tingkatan yang sangat tinggi yang juga tanpa batas, dan merupakan “penerbangan” hamba yang rendah ke arah kesempurnaan Ilahi.
Alexis Carel berkaitan dengan masalah ini menuliskan, “Kepada manusia, doa memberikan kekuatan untuk menanggung kesedihan dan musibah dan ketika kata-kata rasional tidak lagi mampu untuk memberikan harapan, doa akan memberikan harapan kepadanya dan memberikan kekuatan dan kodrat untuk berdiri tegak dalam menghadapi peristiwa-peristiwa besar.”[7]
Doa memberikan pengaruh pada sifat-sifat dan karakteristik-karakteristik manusia. Oleh karena itu, doa harus dilakukan secara kontinyu.[8]
Masyarakat yang membunuh kebutuhannya berdoa, biasanya tidak akan terbebas dari kerusakan dan kerendahan.[9]
William James dalam masalah doa mengatakan, “Sebagaimana kita menerima hakikat-hakikat dan realitas-realitas yang ada pada dunia medis, para ahli medis mengungkapkan bahwa pada banyak kasus, doa, memberikan pengaruh pada kesembuhan kondisi pasien. Oleh karena itu, harus diketahui bahwa doa merupakan salah satu dari perantara yang berpengaruh dalam pengobatan. Dalam banyak kasus yang dihadapi oleh manusia, doa sangat berpengaruh untuk menyembuhkan penyakit-penyakit ruh dan hasilnya, akan diikuti dengan kesehatan badan dan jasmani mereka.[10]
Doa dan shalat bukan merupakan perintah imajiasi atau benak melainkan perolehan lebih banyak dari kekuatan spiritual atau dengan kata lain, rahmat Ilahi.[11]
Berdasarkan apa yang telah kami katakan, ibadah -yang dalam agama Islam merupakan filosofi dan tujuan penciptaan- memiliki suatu karakteristik penting yang sama sekali tidak dipunyai oleh satu agama atau mazhab manapun hingga sekarang ini selain agama Islam, karakteristik itu adalah meliputi aktivitas-aktivitas manusia, apakah manusia itu sedang berdoa kepada Tuhannya, melakukan shalat, dan mensucikan dirinya, maupun sedang sibuk dan melakukan kegiatan di tengah-tengah masyarakat, di tengah-tengah keluarga, atau menjalin hubungan yang erat dengan istri, anak-anak, dan kedua orang tua. Sementara ibadah dalam mazhab dan agama yang lain hanya berkaitan dengan uapcara doa dan menjalin hubungan dengan Tuhan secara resmi, dan tidak mencakup kegiatan-kegiatan budaya, politik, ekonomi, keluarga, dan yang sejenisnya.
Kedekatan kepada Tuhan (Taqarrub Ilallah)
Posisi tertinggi yang bisa diraih oleh manusia adalah maqam kedekatan kepada Tuhan atau kedekatan Rububiyyah. Apa yang dimaksud dengan kedekatan Rububiyyah ini?
Yang dimaksud dengan kedekatan rububiyyah adalah bahwa manusia sampai pada maqam dimana dia menemukan hubungannya dengan Tuhan.
Kita ketahui bahwa seluruh eksistensi dan maujud-maujud dalam penciptaan memiliki interaksi dengan-Nya. Seluruh maujud-maujud alam tidaklah bergantung sebagaimana kebergantungan mereka kepada-Nya.
Dalam salah satu ayat-Nya, Allah Swt berfirman, “Hai manusia, kamulah yang memerlukan kepada Allah; dan hanya Allah-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Qs. Fathir [35]: 15)
Yang dimaksud dengan kesempurnaan akhir adalah bahwa manusia akan sampai pada suatu maqam dimana dia memahami kekurangan dan kebergantungannya kepada Tuhan. Pemahaman ini, bukan merupakan pemahaman yang diperolah secara hushuli (perolehan) karena pemahaman perolehan ini bisa diperoleh dengan bantuan dari argumentasi-argumentas filosofi, melainkan yang dimaksud pemahaman di sini adalah pemahaman hudhuri dan penyaksian irfani (mukasyafah dan musyahadah).
Artinya bahwa manusia akan menggapai maqam tersebut dimana dia tidak ada sesuatupun yang akan mampu menarik perhatiannya selain Tuhan, wujudnya seakan telah memurni dan tidak ada satu perbuatanpun yang dilakukannya selain untuk mencari keridhaan Ilahi. Manusia yang telah mencapai maqam dan posisi seperti ini sama sekali tidak akan pernah menganggap adanya kemandirian untuk dirinya dan dia mengarungi kehidupannya salam satu interaksi permanen dan penyaksian irfani dengan Tuhan. Pada posisi dan maqam seperti ini dimana tidak ada lagi bekas dari diri dan kedirian baginya, apapun yang ada adalah dari Tuhan. Imam Ali As berkaitan dengan interaksi pemahaman hudhuri dan penyaksian irfani bersabda, “Aku tidak menyembah Tuhan yang tidak aku lihat.”[12] “Aku tidak melihat sesuatu kecuali aku melihat Tuhan bersamanya.”[13]
Imam Khomeini ra, dalam pembahasan mengenai liqaullah (perjumpaan dengan Tuhan) dan maqam kedekatan Rububiyyah (kedekatan kepada Tuhan) mengatakan, “Harus diketahui bahwa apa yang mereka maksud bahwa jalan menuju pertemuan dengan Tuhan (liqaullah) dan penyaksian keindahan dan keagungan Yang Maha Benar, ini bukanlah berarti bahwa pengenalan hakiki terhadap dzat Tuhan Yang Maha Suci adalah merupakan suatu hal yang dibenarkan, atau pada ilmu hudhuri dan penyaksian spiritual yang obyektif serta pelingkupan menyeluruh atas Zat Tuhan adalah hal yang memungkinkan, melainkan kemustahilan pencapaian pengetahuan dan pengenalan hakiki terhadap Zat Suci Tuhan baik dalam lingkup pengetahuan universal (pengetahuan rasional dan persoalan-persoalan argumentatif), tafakkur, penyaksian irfani, dan penyingkapan dengan mata batin adalah kesepakatan seluruh filosof dan urafa. Akan tetapi, mereka yang mengklaim berada di dalam maqam ini mengatakan bahwa seorang salik akan mencapai kesucian hati dan menerima manifestasi Nama-nama dan Sifat-sifat Tuhan setelah mencapai ketakwaan sempurna, menyingkirkan segala keinginan hati kepada segala sesuatu di seluruh alam, menolak segala tingkatan-tingkatan spiritual, menyirnakan segala ego dan keakuan, perhatian sempurna dan penerimaan menyeluruh atas Tuhan, Nama-nama, Sifat-sifat-Nya, larut dalam kecintaan kepada Zat Suci Tuhan, dan melakukan riyadhah hati. Dengan demikian, akan terkoyaklah hijab-hijab tebal antara hamba dengan Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya, kemudian dia akan fana dalam Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya, lalu dia akan mencapai suatu kemulian, kesucian, dan keagungan. Puncaknya, dia akan menggapai kesempurnaan zat. Dalam keadaan seperti ini, tidak ada lagi hijab dan penghalang antara jiwa suci para salik dengan Nama-nama dan Sifat-sifat Tuhan. Dan kemungkinan sebagian dari Urafa telah mampu menyirnakan hijab cahaya, yakni hijab Nama-nama dan Sifat-sifat Tuhan, dan telah menerima manifestasi Zat Suci Tuhan serta menyaksikan dirinya bergantung secara mutlak kepada Zat Suci-Nya. Dalam penyaksiannya ini, dia menyaksikan dirinya berada dalam cakupan dan lingkupan hakiki Zat Tuhan serta fana dalam Zat-Nya. Lantas dia melihat dengan mata batinnya bahwa wujudnya dan seluruh makhluk adalah manifestasi-Nya. Dan apabila di antara Tuhan dan makhluk pertama-Nya -yang bersifat non marteri itu tidak terdapat hijab dan bahkan telah ditegaskan secara rasional bahwa di antara makhluk-makhluk non materi itu sendiri tidak terdapat hijab-, maka di antara Tuhan dan hati salik -yang keberluasan dan keberliputannya sederajat dengan mahluk non materi dan bahkan memiliki derajat yang paling tinggi- tidak terdapat hijab dan penghalang.[14]
Maqam spiritual ini disebut juga maqam fana manusia di dalam Zat Suci Tuhan. Akan tetapi fana di sini tidak bermakna hulul[15] atau menyatu dengan Zat Ilahi sebagaimana yang dianggap oleh sebagian kelompok Sufi. Melainkan fana yang dimaksud adalah sirnanya segala kondisi dan keadaan jiwa manusia yang bersifat ego, keakuan, dan ananiyyah. Menurut Ayatullah Tehrani, fana itu memiliki dua bentuk, “Pertama, dia berada dalam lingkup kehidupan alami dan jasmani, tetapi pada kondisi ini dia berhasil mencapai maqam fana, dan fana ini berada sebelum kematian. Sebagian orang-orang mukmin yang berhati ikhlas yang meniti jalan menuju Tuhan telah berhasil menggapai maqam fana di dalam kehidupan dunia ini. Oleh karena itu, maqam fana bagi mereka ini seperti penjelmaan keadaan-keadaan berbeda. Kedua, fana bagi orang-orang yang tidak berada dalam ruang kehidupan materi dan dunia. Mereka telah melewati kehidupan barzakh dan kiamat, dan termasuk orang-orang yang ikhlas dan yang dekat dengan Tuhan serta tinggal dalam maqam fana pada Zat Suci Ilahi. Mereka meninggalkan badan mereka sendiri dan tidak lagi dalam keadaan berjasmani, begitu pula telah melewati kehidupan barzakh dan kiamat serta tidak lagi memiliki keinginan dan ego. Dengan demikian, mereka telah “masuk” dalam wilayah ketuhanan karena berhasil meninggalkan segala manisfestasi-manifestasi-Nya. Mereka tidak lagi berada dalam “bentuk-bentuk” ego kemanusiaan dan tidak terlingkupi dengan manifestasi suatu Nama-nama dan Sifat-sifat Ilahi tertentu”[16]
Manusia yang telah mencapi maqam fana dalam Tuhan (fana fillah) akan mempunyai suatu karakterisitk dan kekhususan -yang tidak perlu disampikan pada kesempatan ini-, akan tetapi kami mencukupkan untuk menutip dua hadis dalam persoalan ini supaya menjadi jelas tanda-tanda seseorang yang telah mencapai kedekatan dengan Tuhan.
“Hamba-Ku tidak akan mencapai kedekatan kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih dicintai di sisi-Ku dari apa-apa yang diwajibkan atasnya dan sesungguhnya dia pasti dekat kepada-Ku dengan perbuatan nawafil (perbuatan-perbuatan yang sunnah dan mustahab) sedemikian sehingga Aku mencintainya, dan ketika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar dan Aku menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat dan Aku menjadi lisannya yang dengannya dia berbicara serta Aku menjadi tangannya yang dengannya di mengambil, apabila dia berdoa kepada-Ku Aku akan mengabulkannya dan kalau dia meminta kepada-Ku Aku akan memberikannya.”[17]
Berdasarkan hadis tersebut, manusia yang telah mencapai maqam kedekatan kepada Tuhan maka keinginan dan kehendaknya dengan izin Tuhan akan berlaku di alam ini seperti kehendak dan iradah Tuhan Yang Maha Tinggi. Penglihatannya menjadi penglihatan Tuhan, pendengarannya menjadi pendengaran Tuhan, dan tangannya menjadi tangan Tuhan. Yakni segala amal dan perbuatannya telah mendapatkan warna ketuhanan, dengan demikian, dengan izin Tuhan, dia dapat mengatur dan mengubah sesuatu di alam ini. Dengan ungkapan lain, karena dia memiliki kekuasaan penuh atas hukum-hukum alam (hukum takwiniyyah) maka dia adalah penguasa atas kekuatan-kekuatan alam. Lebih dari itu, doanya senantiasa terkabulkan, yakni apa saja yang diinginkan dari Tuhan niscaya Tuhan akan mengabulkan segala permintaan dan permohonannya. “Bagi Tuhan terdapat hamba-hamba yang taat terhadap apa-apa yang Dia inginkan, maka Tuhan pun mengikuti apa-apa yang mereka kehendaki sedemikian sehingga ketika mereka menyatakan: jadilah, maka jadilah sesuatu itu.”[18]
Alam Eksistensi Mengarah kepada Kesempunaan
Dari pembahasan sebelumnya kita akan sampai pada kesimpulan berikut bahwa tujuan penciptaan manusia adalah kembali pada manusia itu sendiri, dan bukan karena penciptaan alam dan eksistensi merupakan motivasi bagi Tuhan sehingga dengan kemunculan alam dan alam-alam Ia akan sampai pada tujuan-Nya. Melainkan karena keniscayaan dari kemuliaan tak terbatas Tuhan adalah penciptaan eksistensi dan alam eksistensi.
Di sini kita akan membahas bahwa hikmah Ilahi meniscayakan eksistensi-eksistensi di alam penciptaan ini terutama yang bernama manusia akan melakukan perjalanan ke arah kesempurnaan. Terdapat dua argumentasi yang bisa diutarakan untuk membuktikan bahasan ini, yaitu:
1. Perangkat penciptaan akan mengarahkan segala eksistensi dan maujud-maujud ke arah puncak kesempurnaan (hidayah takwiniyyah)
2. Pengangkatan dan pengutusan para Nabi (hidayah tasyri’iyyah)
Dalam pengamatan terhadap maujud-maujud alam keberadaan -sekecil apapun pengamatan tersebut- akan menunjukkan bahwa seluruh mereka akan melangkah ke arah kesempurnaan. Biji-biji gandum atau biji buah-buahan yang tersembunyi di dalam tanah akan senantiasa melintasi tahapan-tahapan sehingga sampai pada kesempurnaan akhirnya yaitu menjadi tangkai-tangkai gandum atau buah-buah yang ranum. Demikian pula sebuah nutfah yang menggumpal di dalam rahim seorang ibu, sejak awal kemunculan akan bergerak ke arah tujuan akhirnya yaitu menjadi manusia dalam keadaan yang sempurna.
Apabila kita perhatikan, secara umum setiap maujud-maujud alam penciptaan berada dalam keadaan bergerak dengan hidayah takwiniyyah ke arah kesempurnaan jenisnya masing-masing.
Di sini kami akan mengisyarahkan pada beberapa poin:
a. Untuk menganalisa bagaimana alam tabiat melakukan perjalanannya ke arah kesempurnaan, maka kita harus mengetahui makna dan mafhum dari kesempurnaan. ita harus pula melihat apa sebenarnya maksud dan tujuan filosofi Islam dari kesempurnaan.[19]
Dari pandangan filsafat Islam, jika sesuatu dari potensi mencapai tahapan aktualisasinya, maka kita akan mengatakan bahwa sesuatu tersebut menemukan kesempurnaannya. Dan gerak substansi yang dikemukakan oleh Mula Sadra dengan definisi ini pun merupakan penjelas wujud kesempurnaan dalam sesuatu, karena pada gerak substansi dimana gerakan terjadi pada zat sesuatu, sesuatu tersebut dalam setiap tahapan dari tahapan-tahapan wujudnya akan mengubah potensi-potensi dan kemampuan-kemampuannya menjadi teraktual. Dan sesuatu tersebut pada tahapan barunya akan kehilangan kesempurnaan yang sebelumnya dia miliki dan akan memperoleh kesempurnaan lainnya. Para filosof dalam mendefinisikan gerak mengatakan, “Gerak adalah keluarnya sesuatu dari potensi secara bertahap kepada aktualisasi “
Berdasarkan definisi ini, setiap jenis gerak merupakan gerak yang mengarah pada kesempurnaan. Hal ini dikarenakan dalam setiap bentuk gerak, potensi-potensi akan berubah menjadi aktual. Bebijian yang tersembunyi di kedalaman tanah dan tumbuh hingga menjadi sebatang pohon yang rimbun dengan buah, setiap saatnya berada dalam keadaan menyempurna. Sebuah apel yang awalnya berwarna kuning senantiasa akan melakukan gerak menyempurna ke arah warna merah, supayaa potensi warna merah yang sejak awal telah dimilikinya sampai pada pengaktualannya. Sel-sel yang berubah menjadi manusia, geraknya adalah gerak yang menyempurna, karena pada awalnya dia telah memiliki potensi untuk menjadi manusia, dan ketika telah berubah menjadi seorang manusia berarti potensi-potensi dan kemampuan-kemampuannya telah sampai pada tahapan aktual. Bahkan gerak di tempat pun merupakan sebuah gerakan yang menyempurna, karena benda yang bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, memiliki potensi ini yang kemudian telah berubah menjadi aktual. Demikian pula dengan gerak bumi yang merotasi atau gerakannya mengelilingi matahari, juga merupakan gerakan menyempurna, karena bumi pada awalnya telah memiliki potensi untuk melakukan gerak rotasi atau gerak mengelilingi bumi dan ketika gerakan ini terwujud, maka apa yang ditampakkannya adalah potensi dan kemampuannya yang telah berubah mengaktual.
Oleh karena itu, yang dimaksud dengan menyempurna adalah perubahan mengaktualnya potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh sesuatu, baik hal ini akan menambahkan volume pada sesuatu ataupun tidak, sebagaimana yang persangkaan salah yang dikemukakan oleh sebagian yang mengatakan, jika sebuah sesuatu telah menemukan penyempurnaannya, maka pasti volumenya akan bertambah. Sekarang ketika dikatakan, kesempurnaannya bertambah, maka yang dimaksudkan disini bukanlah kebertambahan dalam dimensi sesuatu tersebut, melainkan sebagaimana yang telah kami katakan sebelumnya, yang dimaksud dengan kesempurnaan di sini adalah mengaktualnya potensi-potensi dan kemampuan-kemampuan.
b. Setiap maujud memiliki potensi dimana berdasarkan potensi tersebutlah ia akan menyempurna. Sebagai contoh, potensi yang dimiliki oleh tumbuh-tumbuhan sama sekali tidak akan pernah dimiliki oleh in-organik. Dari sinilah sehingga kemudian dikatakan bahwa masing-masing akan menemukan pengaktualan sifat dan keberadaannya sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Dengan kata lain, setiap maujud akan bergerak menyempurna berdasarkan sifat dan potensi yang dimilikinya.Oleh karena itu, kesempurnaan setiap maujud harus dilihat dari hubungan dan interaksi dengan potensi-potensi yang dimiliki oleh maujud tersebut dan sama sekali tidak bisa dikatakan bahwa satu bentuk kesempurnaan tertentu bisa diletakkan untuk seluruh maujud.
c. Kesempurnaan merupakan persoalan yang nisbi. Yaitu suatu sifat mungkin saja bisa menjadi sebuah kesempurnaan bagi sesuatu, akan tetapi bagi sesuatu lainnya hal ini merupakan ketaksempurnaannya, misalnya rasa manis, untuk buah-buahan seperti apel dan buah pear merupakan sebuah kesempurnaan, akan tetap untuk jeruk nipis hal ini menjadi ketaksempurnaan baginya.
d. Kondisi lingkungan dan faktor-faktor eksernal dzat kadangkala menjadi penghambat bagi mengaktualnya potensi-potensi internal yang dimiliki oleh maujud-maujud. Misalnya, air dan udara yang tidak layak dan ketiadaan perhatian terhadap tumbuh-tumbuhan akan menyebabkan terhambatnya perwujudan sifat-sifat keberwujudan tumbuhan. Biji-biji gandum yang tertanam di bawah tanah, jika tidak mendapatkan perawatan yang baik, maka ia akan menjadi layu dan musnah.
Ringkasnya, di dalam diri setiap eksistensi senantiasa terdapat kekuatan potensi yang tersembunyi, dimana ia akan melewati tahapan-tahapan berdasarkan gerak substansinya. Setiap tahapan jika diperbandingkan dengan tahapan sebelumnya merupakan aktual dan jika diperbandingkan dengan tahapan setelahnya merupakan potensial.
Setiap eksistensi setelah melewati seluruh lintasan kesempurnaan dan meninggalkan potensi-potensi dan aktual-aktual yang beragam, pada akhirnya akan sampai pada kesempurnaan dirinya. Sebagai contoh, buah-buahan seperti apel dan jeruk yang pada tahapan awalnya merupakan biji-bijian, ia akan meninggalkan tahapan-tahapan dan bergerak menyempurna dalam kediriannya yaitu sampai pada jenis buah-buahan yang memiliki rasa, bentuk dan khasiat-khasiat yang khas.
e. Tujuan akhir penciptaan adalah manusia, sebagaimana yang telah kami isyaratkan sebelumnya, setiap maujud alam penciptaan memiliki tujuan dan sasaran dimana sejak awal kemunculannya akan bergerak ke arah tujuan dan sasarannya tersebut. Bebijian tumbuhan yang berada di dalam kedalaman tanah berada dalam geraknya sehingga setelah melintasi tahapan-tahapan akan sampai pada aktualisasinya dan misalnya berubah menjadi buah. Atau telur yang berada di bawah eraman seekor ayam akan melakukan persiapan untuk mengalami perubahan menjadi seekor anak ayam, sehingga setelah melewati tahapan ini pun dia akan berubah menjadi seekor ayam dan …
Selain itu, masing-masing dari maujud dan eksistensi ini akan menjadi tujuan dari maujud-maujud lainnya, yaitu alasan terciptanya suatu maujud adalah supaya maujud lainnya bisa memanfaatkannya, misalnya tumbuh-tumbuhan telah tercipta supaya manusia dan binatang bisa memanfaatkannya, atau binatang-binatang tercipta supaya manusia bisa memanfaatkannya, dengan ibarat lain, begitu maujud-maujud ini mencapai aktualisasi akhir dari dirinya dan dipergunakan oleh manusia, maka dia telah sampai pada tujuan akhirnya.
Allah Swt berfirman dalam ayat-ayat-Nya, “Dia-lah yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kamu. Kemudian Dia (berkehendak) menciptakan langit, lalu Dia menjadikannya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.“ (Qs. Al-Baqarah [2]: 29) “Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, …” (Qs. Al-Baqarah [2]: 22) “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan ‘Arasy-Nya berada di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, …” (Qs. Hud [7]: 7)
Dengan memperhatikan apa yang telah disebutkan, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa kita memiliki kesempurnaan awal dan kesempurnaan akhir. Kesempurnaan maujud-maujud merupakan sebuah kesempurnaan awal untuk kesempurnaan manusia. Bahkan pada manusia sendiri terdapat pula kesempurnaan-kesempurnaan permulaan atau awal yang kesempurnaan itu bukan merupakan tujuan akhir, misalnya ilmu dan pengetahuan yang secara sendirinya merupakan sebuah bentuk kesempurnaan yang harus dipergunakan untuk mendukung kesempurnaan akhir manusia yang tak lain adalah kedekatan rububiyyah. Oleh karena itu, seluruh kesempurnaan eksistensi-eksistensi di alam penciptaan merupakan kesempurnaan awal bagi kesempurnaan akhir yang tak lain adalah kedekatan rububiyyah.[ www.wisdoms4all.com/ind ]
[1] . Pada dasarnya yang ingin disampaikan adalah bahwa manusia itu harus secara sadar, berpengetahuan, dan bebas menjadi hamba Tuhan. Manusia harus yakin bahwa Tuhanlah yang layak untuk disembah dalam segala bentuknya. Tuhan tidak ingin memaksa makhluk dan ciptaannya untuk menyembahnya. Dengan demikian, manusia dan makhluk adalah penyembah Tuhan yaitu bahwa ia senantiasa menyembah-Nya. Jadi titik tekan penyembahan dan ibadah di sini adalah bahwa manusia dan makhluk sebagai subyek yang menyembah, bukan obyek yang disembah (baca: Tuhan).
[2] . Untuk mendalami tafsir dari ayat di atas, rujuklah: al-Mizan, J. 36, hal. 298-302.
[3] . Syarh Ushul Kafi, J. 9, hal. 62; Biharul Anwar, J. 16, hal. 406.
[4] . Ahadits Matsnawi, hal. 172.
[5] . Rasail Kurki, J. 3, hal. 162; Syarh Asma al-HUsna, J. 1, hal. 139.
[6] . Mustadrak Safinah al-Bihar, J. 8, hal. 215.
[7] . Roh-e Rasm-e Zendegi, hal. 137.
[8] . Niyoyesh, hal. 12.
[9] . Ibid, hal. 17.
[10] . Din wa Rawon, hal. 154-158
[11] . Ibid.
[12] . Mukhtashar Bashair ad-Darajat, hal. 160.
[13] . Al-Lum’atu al-Baidha, hal. 169.
[14] . Risalah Liqaullah, hal. 253-254.
[15] . Seperti air yang meresap kedalam tanah atau ruh yang berada dalam badan (menurut pemikiran filsafat Peripatetik), atau sebagaimana faham Reinkarnasi.
[16] . Mehr-e Tobon, hal. 200-202.
[17] . Risalah Liqaullah, hal. 29-30.
[18] . Kalimatullah, hal. 143.
[19] . Kesempurnaan berasal dari kategori kedua filosofi, dan yang dimaksud dengan kategori kedua filosofi adalah aksidensinya berada di dalam benak dan pensifatannya berada di luar, wujud dirinya tidak berada di luar secara mandiri melainkan tersifatkan pada sesuatu yang lain, seperti tunggal dan banyak, sebagaimana kita mengetahui di alam eksternal kita tidak memiliki sesuatu yang bernama tunggal atau banyak, apa yang terdapat di alam eksternal-lah yang tunggal atau banyak. Kesempurnaan pun berasal dari kategori kedua filosofi yaitu aksidensinya berada di dalam benak dan pensifatannya berada di alam eksternal. Di alam eksternal tidak ada sesuatu yang secara mandiri bernama kesempurnaan, melainkan kesempurnaan adalah sebuah sifat yang disifatkan kepada sesuatu lainnya.
...SOALAN CEPU ALIAS MENYENTAP BENAK....
Adakah Jabatan Imam Allah?
Masalah kepemimpinan merupakan salah satu persoalan yang sangat mendasar di dalam kehidupan manusia. Sejak kecil, setiap orang akan mengenal dan berinteraksi dengan persoalan ini. Kita mengenal istilah orang tua sebagai pemimpin di rumah, guru di sekolah, direktur di perusahaan, komandan di keperwiraan, kepala pemerintahan dan seterusnya. Intinya, persoalan kepemimpinan meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Ia menjadi pondasi dan tulang punggung keberlangsungan spesies manusia dimanapun dan kapanpun mereka berada. Tanpa adanya kepemimpinan, maka seluruh pilar dan sistem kehidupan manusia niscaya porak poranda atau khaos—lawan katanya adalah kosmos, yakni teratur. Hal ini sangat jelas sehingga tak perlu pembuktian lagi. Bahkan dalam skala komunitas yang paling sederhana sekalipun, kalimat “broken home” adalah istilah umum yang ditujukan bagi seorang anak yang tidak merasakan adanya figur pemimpin dirumahnya.
Pada dasarnya, makna pemimpin adalah pengatur, pembimbing, penuntun, pengawas, penegak aturan dan pemberi keputusan sehingga hubungan antara kepemimpinan dan keteraturan adalah perkara yang mustahil bisa dipisahkan. Secara esensial, penataan sekelompok masyarakat sangat bergantung pada dua kunci utama bagi terwujudnya suatu tatanan kehidupan yang harmonis, yakni adanya seperangkat aturan atau hukum dan figur pelaksananya atau penegak aturan tersebut yakni hakim. Untuk itu, munculnya kesadaran dan kebutuhan manusia bagi adanya seperangkat hukum dan keberadaan hakim adalah perkara rasional. Sedangkan penolakan atau penerimaan salah satu darinya saja adalah irasional.
Sehubungan dengan hal ini, secara garis besar agama bisa dimaknai sebagai seperangkat aturan yang diharapkan bisa menata hubungan dan perilaku manusia kepada Tuhan dan alam kehidupannya. Di setiap agama, wacana kepemimpinan adalah topik sentral yang tak bisa disepelekan terutama bagi keberlangsungan ajaran tersebut dan juga penganutnya. Saat ini, agama-agama di dunia umumnya dibagi menjadi dua kelompok. Pertama adalah agama-agama yang melandasi ajarannya berdasarkan wahyu atau “agama samawi”. Dan kedua adalah agama-agama yang melandasi ajarannya berdasarkan kebijakan dan tradisi.
Dalam kaitannya dengan studi kristologi, pembahasan komprehensif ditujukan kepada agama-agama yang mendasari ajarannya melalui wahyu Tuhan atau profetisme, yakni kenabian. Dan pada saat ini, agama-agama seperti Islam, Yahudi dan Kristen adalah ajaran-ajaran yang meyakini tentang keberadaan para nabi Tuhan. Secara substansial, kendati masing-masing agama itu punya banyak perbedaan, tapi secara umum, seluruh agama wahyu ini punya satu simpul yang sama, yaitu adanya pengakuan dari masing-masing agama tersebut bahwa Abraham [Islam: Ibrahim] adalah seorang nabi Tuhan.
Di dalam Alkitab Perjanjian Lama (Yudaisme: Tanakh), Abraham memiliki beberapa gelar yang masing-masing mencerminkan jabatan langit yang diembannya. Hal ini memposisikan Abraham sebagai orang pilihan yang mulia disisi Allah dan juga dihadapan keturunan dan para pengikutnya. Dia disebut sebagai nabi (Kej 20:7) [1], bapa sejumlah besar bangsa (Kej 17:15-16) [2], sahabat Allah (2Taw 20:7; Yes 41: [3], dan yang terpenting dari semua adalah raja-imam (Kej: 12:7; 13:4) [4]. Jabatan Abraham sebagai imam Allah ini memang sangat unik dan berbeda dari kedudukan-kedudukan dia sebelumnya sehingga ada pendapat umum bahwa Kejadian 14 merupakan salah satu bab yang paling sukar dalam Kitab Kejadian.[5] Istilah “raja” dan “imam” yang selanjutnya dipadukan menjadi raja-imam mengindikasikan kepada otoritas penuh yang dijabat oleh Abraham dan keturunannya. Yakni sebagai penguasa dan pemimpin sekaligus. Hal ini otomastis berimplikasi bagi adanya suatu wilayah kekuasaan dan kepemimpinan (Kej 17:8-9) [6]. Adapun peristiwa pemberkatan Abraham sebagai Imam Alah bisa ditemukan dalam Kitab Kejadian di pasal 14:1-24. Peran Abraham sebagai pemimpin atau imam yang dipilih dan dinobatkan secara langsung oleh Allah ini—melalui perantaraan Melkisedek—adalah peristiwa yang tak dinafikan kebenarannya, baik oleh Yahudi maupun Kristen.
Secara etimologi, kata “imam” dalam bahasa Ibraninya di Authorized Version (AV) adalah kohen [7] dan nasiy [8]. Masing-masing dari kata ini di ulang sebanyak 750 kali dan 132 kali. Kedudukan ini juga menandai perjanjian atau covenant antara Abraham dan Allah yang mana melalui keturunannya itu Dia akan mengutus seorang yang diurapiNya atau Mesiah, dan akan menjadi berkat bagi seluruh bangsa di bumi (Kej 18:18).[9] Pengesahan kovenan ini ditandai dengan kewajiban penuh bagi Abraham dan keturunannya untuk mentaati hukum-hukum Ilahi berdasarkan prinsip kebenaran dan keadilan.[10]
Untuk itu, kendati sudah ada tiga jabatan langit yang diberikan kepada Abraham, yakni sebagai nabi atau rasul dan kedudukan khususnya sebagai sahabat Allah. Namun masih ada satu jabatan langit terakhir yang tertinggi, yakni sebagai imam Allah. Kedudukan ini juga dianugerahkan kepada Abraham dan keturunan biologisnya. [11] Adapun dari segi pelaksanaan bahwa meskipun jabatan imam Allah ini munculnya belakangan, namun inti dari ajaran Allah kepada manusia itu sendiri sebenarnya baru bisa direalisasikan, apabila hukum-hukum tersebut telah selesai disyariatkan oleh para nabi. Dan setelah itu, syariat ini akan ditegakkan oleh imam-imam Allah yang berasal dari keturunan biologis Abraham. Fakta ini jelas sangat rasional karena tak ada hakim kecuali setelah adanya hukum. Dan hukum pun mustahil bisa ditegakkan kecuali setelah adanya para hakim.
Pada dasarnya, jabatan imam Allah merupakan satu-satunya jabatan tertinggi dan tunas dari “Pohon Kejadian” yang menjadi tujuan atas penciptaan manusia di bumi. [12] Sedangkan kenabian atau kerasulan adalah cabang dari “Pohon Kejadian” tersebut. Artiya, institusi ilahiah ini secara gradual diawali oleh keimaman—yang menduduki puncak dari hierarki rububiyah itu, kemudian disusul dengan kerasulan atau kenabian. Sedangkan penampakan atas jabatan imam Allah di alam dunia (syahadah) secara hierarki adalah kebalikan dari hakekatnya di alam sorgawi (ghayb). Di alam dunia, kemunculan jabatan-jabatan langit ini diawali lebih dahulu dengan kenabian, kerasulan dan imamah.
Setelah Ibraham wafat, jabatan-jabatan ini terus diwariskan melalui keturunan biologis Ismail dan Ishak yang mana keduanya adalah nabi. Dalam Alkitab dinubuatkan bahwa dari Ismail dan keturunannya akan muncul duabelas orang imam “Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas imam, [13] dan Aku akan membuatnya menjadi umat [14] yang besar (Kej 17:20). Kondisi serupa juga ditampakkan kepada bangsa Israel pada zaman Musa as yang mana dia telah diperintahkan oleh Allah untuk melantik duabelas orang imam yang dikepalai oleh Harun dan keturunannya (Bil 17:1-13). Pelantikan para imam Allah ini menandai kesempurnaan RisalahNya dan puncak dari kovenan antara Allah dan para nabi yang ditugaskan untuk menyampaikan AjaranNya kepada manusia. Bahkan fungsi utama dari pengutusan seorang nabi atau rasul itu adalah untuk menegakkan kerajaan imam dan umat yang kudus.Alkitab dan Al-Qur’an menyatakan:
“Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel”. (Keluaran 19:5-6)
“Dan ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu, dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh”. (QS. 33:7)
Sedangkan mengenai perjanjian [mitsaq] yang dimaksudkan itu, maka Al-Qur’an menjelaskan lagi, “Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin” (QS. 5:12).
Alhasil, substansi yang ingin ditegaskan dalam pengantar yang ringkas ini bahwa status seorang imam di dalam agama Ibrahimik—menurut tinjauan kristologi—itu memang ada dan dipilih secara mutlak oleh Allah sebagaimana halnya kenabian dan kerasulan. Artinya tidak melalui konsensus. Imam Allah adalah jabatan sorgawi yang kudus dan tidak terbentuk melalui mekanisme pemilihan umum ataupun cara-cara lain yang dilandasi oleh perspektif manusia. Sungguh tidak mengherankan bila Al-Qur’an sendiri pernah menegaskan bahwa keluarga Ibrahim as telah dianugerahi suatu kerajaan yang besar.
“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar”. (QS. 4:54)
Secara historis, pena sejarah umat manusia belum pernah mencatat bahwa keluarga Ibrahim ada yang mendirikan monarki keluarga, misalnya seperti Ibrahimiyah, Ismailiyah, Ishakiyah, Yakubiyah, Yusufiyah, Musaiyah atau Haruniyah dan lain sebagainya. Hal itu disebabkan keluarga Ibrahim lebih dikenang sebagai mata airnya kenabian, kerasulan dan imamah. Jika demikian, maka kerajaan besar apakah yang dimaksudkan oleh al-Qur’an itu? Apabila hal ini tidak merujuk kepada mamlakah kohen atau kerajaan imam,[15] tentu akan sulit menemukan makna yang sebenarnya dari ayat tersebut. Lalu, apabila keluarga Ibrahim telah diwariskan kerajaan besar oleh Allah, maka bagaimanakah dengan nasib keluarga Muhammad saw sendiri? Artinya, apakah mungkin dari keturunan Muhammad saw ini akan ada yang menjadi imam-imam Allah seperi yang pernah terjadi di masa para nabi terdahulu yang berasal dari keluarga Ibrahim? Dan apabila jumlah para imam dari keluarga Ibrahim as ini selalu duabelas orang, maka mungkinkah jumlah para imam dari keluarga Muhammad pun juga demikian?
Sebagai penutup, barangkali hadis Nabi saw yang pernah diriwayatkan dalam Sahih Bukhari[16] ini bisa membawa kita kepada kontemplasi mendalam yang selaras dengan pendewasaan beragama. “Jabir ibn Samurah mengatakan, ‘Saya mendengar Nabi berkata: “Akan ada duabelas pemimpin setelah saya.” Kemudian mengatakan, “Saya mendengar ayah saya mengatakan ia mendengar Nabi berkata, “Mereka berasal dari suku Qurays”’”. Wallahu’alam.
Catatan Kaki:
[1]“Jadi sekarang, kembalikanlah isteri orang itu, sebab dia seorang nabi;”.
[2]“Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya”.
[3] “Bukankah Engkau Allah kami yang menghalau penduduk tanah ini dari depan umat-Mu Israel, dan memberikannya kepada keturunan Abraham, sahabat-Mu itu, untuk selama-lamanya?”; Dan juga “Tetapi engkau, hai Israel, hamba-Ku, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, yang Kukasihi;”.
[4] ”Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: ‘Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.’ Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya”; Dan juga “ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN”.
[5] Lembaga Biblika Indonesia, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, disunting oleh Dianne Bergant, CSA dan Robert J. Karris, OFM (Jakarta: Penerbit Kanisius, 2002) hal. 52.
[6] “Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.’ Lagi firman Allah kepada Abraham: ‘Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun”.
[7] Kata kohen artinya imam atau pendeta (priest), orang yang memiliki (own), penguasa tertinggi (chief ruler), pejabat (officer), pangeran atau putra mahkota (princes).
[8] Kata nasiy’ atau nasi’ artinya pangeran atau putra mahkota (prince), kapten (captain), ketua (chief), penguasa (ruler), beruap atau menguap (vapours), gubernur pemerintahan (governor), awan (clouds), bagian (part). Secara definisi adalah orang yang ditinggikan (one lifted up) atau imam (leader) dan uap yang terangkat, yakni selalu meninggi dari lainnya (raising mist).
[9] “Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku”.
[10] “Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” (Kej 18:19).
[11] Bandingkan juga beberapa kedudukan Nabi Ibrahim as yang disampaikan dalam Al-Qur’an, yaitu: Pertama, sebagai nabi “Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat benar dan seorang Nabi”. (QS. 19:41). Kedua, ayat al-Qur’an ini memaparkan dua sisi, yaitu kedudukan Ibrahim as sebagai rasul dan juga moyang bagi sejumlah besar bangsa yang mana keturunannya itu akan mewarisi jabatan kenabian dan kerasulan “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan Al Kitab, maka di antara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak di antara mereka yang fasik”. (QS. 57:26). Ketiga, sebagai khalil atau sahabat Allah “Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya”. (QS. 4:125). Keempat, sebagai imam “Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhanya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata: ‘dan dari keturunanku.’ Allah berfirman: ‘JanjiKu tidak mengenai orang-orang yang zalim’”. (QS. 2:124).
[12] “Manusia adalah puncak dari seluruh penciptaan. Kelebihan ciptaan ini digarisbawahi oleh kenyataan bahwa hanya manusialah yang diciptakan menurut “gambar” atau “rupa Allah”. [Dikutip dari Lembaga Biblika Indonesia, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, disunting oleh Dianne Bergant, CSA dan Robert J. Karris, OFM (Jakarta: Penerbit Kanisius, 2002) hal. 35]. Bandingkan dengan ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang kedudukan manusia sebagai khalifah Allah dimuka (QS. 2:30) dan hadis Nabi saw yang mengatakan bahwa Adam diciptakan dari citranya.
[13] Saya sengaja mengganti kata “raja”—seperti yang ada diterjemahan Alkitab LAI—dengan kata “imam”, karena kata “raja” adalah terjemahan yang tidak tepat. Dalam bahasa Ibrani kata “raja” adalah melek, sedangkan Authorized Version (AV) tidak menyebut kata tersebut di ayat ini melek (raja) tapi nasiy’ (imam). Yakni suatu posisi atau jabatan langit tertinggi yang berasal dari Allah saja. Kedudukan ini juga diikrarkan kembali pada zaman Musa, sewaktu Allah memerintahkannya untuk mengangkat duabelas orang pemimpin atau imam dari kalangan bangsa Israel (Bdk. Bil 17:1-6). Seluruh kata yang diterjemahkan “pemimpin” di ayat tersebut di dalam AV adalah nasiy’, persis seperti kedudukan yang diberikan kepada keturunan Ismail di Kej 17:20.
[14] Saya sengaja mengganti kata “bangsa”—seperti yang diterjemahkan dalam Alkitab bahasa Indonesia—dengan kata “umat”, karena kata asli di teks Ibraninya adalah goy yang dalam bahasa Inggris bisa diterjemahkan nation dan people. Walaupun demikian, pengunaan kata “bangsa” bukan berarti keliru, hanya saja dalam kajian mesianisme Yahudi, mereka sering mengaitkan hal ini dalam konteks kebangsaan atau keturunan biologis mereka saja (nationality) yakni partikular. Sedangkan dalam mesianisme Kristen, para penafsirnya telah melepas arti “keturunan biologis” Ibrahim ini sepenuhnya dan menguniversalkan maknanya (people). (lih. Ro 4:16; Ga 3:29). Padahal, janji Allah ini memang terkait dengan kedua sisi tersebut yakni kebangsaan dan juga manusia secara umum.
[15] “Dan Kami jadikan di antara mereka itu imam-imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”. (QS. 32:24; 21:73; 28:5).
[16] Sahih Bukhari, bagian 9, “Kitab al-Maqadam”, hal. 1000. Sementara dalam Musnad Ahmad diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa ia bertanya kepada Nabi tentang para khalifahnya. Beliau berkata, “Mereka duabelas orang seperti suku bani Isra’il yang dua belas.” (Musnad Ahmad, Jilid 1, hal. 398).