RTCCTV-Live kuliah-Prerecording majlis-

Tuesday, August 5, 2008

TASHAWWUF & IRFAN DALAM ISLAM

TASHAWWUF & IRFAN DALAM ISLAM[1]

Ahmad Y. Samantho Al-Hussaini[2]

(Kandidat Magister Islamic Philosophy ICAS-Paramadina)

Prolog

Di tengah kegersangan spiritual dan hegemoni paradigma budaya materialistik-sekular, umat manusia ditenggarai makin tercerabut dari kesejatian eksistensi dirinya. Kebanyakan manusia makin terasing dari alam semesta, Tuhan dan dirinya sendiri, berjalan tak tentu arah, tak tahu tujuan hidupnya dan merasa hidup ini hanyalah sia-sia belaka, tanpa makna tanpa tujuan. Akhirnya penyakit-penyakit epidemik psikosomatik akibat depresi, stress, kehampaan spiritual, skisofrenia, hedonisme, krisis makna-legimasi hidup atau nihilisme dan bunuh diri, makin merebak. Abad ke-20-21 inilah abad yang oleh Anthony Giddens disebut berciri: ”manufactured uncertainity” yaitu masa yang dipenuhi oleh ketidakpastian dan mengarah kepada high concequence risk.[3] Krisis-krisis tersebut makin mengental menjadi krisis multidimensional yang disebabkan oleh krisis eksistensial menurut Seyyed Hosein Nasr.

Sebagaimana Syed Hossein Nasr katakan, krisis-krisis eksistensial ini bermula pada pemberontakan manusia modern kepada Tuhan. Krisis eksitensial ini merupakan manifestasi dari krisis spiritual manusia modern. Ketika manusia meninggalkan Tuhan demi mengukuhkan eksistensi dirinya, manusia telah bergerak dari pusat eksistensinya sendiri menuju wilayah pinggiran eksistensi. Kehidupan manusia modern, kata Nasr, telah terperangkap dalam pinggiran eksistensi mereka yang semakin lama semakin jauh meninggalkan pusat eksistensinya. Mereka kehilangan harapan kebahagiaan masa depan seperti yang dijanjikan oleh gerakan renaisance, enlightment era, sekularisme-materialisme sains dan teknologi. Oleh karena itu, kecemasan eksistensial yang menghantui manusia modern adalah merupakan konsekuensi logis alamiah dari modus eksistensi mereka yang mencampakkan kehidupan spiritual dan Tuhan mereka. Krisis ini bermula ketika manusia modern memberontak terhadap Allah Tuhan Yang Maha Pencipta.[4]

Allah sendiri telah berfirman: “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS Al-Hasyr: 19). Jika kita merujuk kepada sabda Nabi SAAW: “Barangsiapa yang mengenal dirinya, akan mengenali Tuhannya.” Dan sabda Imam Ali KW : “Pokok pangkal agama adalah mengenal Tuhan. (awwaludin al-Ma’rifatullah)”, maka pengenalan jati diri manusia juga menjadi pokok ajaran agama.


Keresahan jiwa yang diakibatkan efek negatif perkembangan modernisme & dan postmoderenisme tersebut mendorong sebagian orang berpaling untuk mencari solusi atau sekedar pelarian dari kegelisahan dan kehausan jiwanya akan kedamaian dan kebahagiaan. Maka mulailah banyak orang di Barat berpaling kepada spiritualitas Timur dari Budha, Hindu, Konfusians, dan Islam.

Bahkan, khususnya di kalangan masyarakat Muslim di Indonesia, kita juga mulai melihat gejala arus balik ke arah spiritualitas tersebut. Gejala ini dapat kita lihat misalnya dengan merebaknya majlis-majlis dzikir massal yang diikuti oleh belasan ribu jamaah. Atau gerakan kelompok-kelompok tasawuf dan pengobatan Sufi di kota-kota besar di Indonesia yang makin mendapat tempat, baik di kalangan masyarakat bawah maupun kelas menengah-atas.

Keislaman Kontroversi Tasawuf & Irfan

Namun demikian, masih terdapat resistensi dan penolakan yang cukup kuat dari sebagian masyarakat Muslim, yang mempertanyakan apakah Tasawuf atau Irfan tersebut adalah asli ajaran Islam ataukah pengaruh dari luar Islam? Penentangan terhadap gerakan tasawuf ini umumnya muncul dari kalangan kelompok literalis & formalis Islam, kaum muhaditsun (yang berpegang teguh pada makna literal hadits) dan akhbariyun yang tak jarang didukung oleh para penguasa politik. Inilah yang akan kita bahas dalam paper singkat ini.

Memang untuk mengkaji masalah ini diperlukan kajian teliti yang mendalam dan komprehensif, mengingat cukup peliknya masalah ini. Namun pembahasan dalam paper ini mungkin hanya sekedar pengantar ke arah kajian yang lebih dalam dan komprehensif tersebut.

Sejak lama, di dunia Islam memang telah muncul kecenderungan ke arah apa yang disebut ‘Irfan dan Sufisme (tashawwuf), yang sejak abad IV Hijriah (X Masehi) sampai abad VIII H ( XIV M) keduanya mencapai puncaknya di berbagai negara seperti Iran dan Turki. Saat ini di seluruh penjuru dunia terdapat berbagai sekte sufi. Kecenderungan serupa juga kita dapatkan pada pemeluk agama-agama lain. Maka wajarlah sekiranya timbul pertanyaaan apakah irfan/tashawwuf itu asli Islam atau berasal dari pengaruh agama lain?Dalam menyikapi persoalan keaslian atau keislaman Tashawwuf atau Irfan ini, paling tidak, ada 3 kelompok yang berbeda tanggapannya :

1. Kelompok yang menolak keislaman Irfan dan Tashawwuf. Mereka menganggap Irfan & Tashawwuf ini adalah bid’ah yang bertentangan dengan atau menyimpang dari Islam, karena berasal dari luar Islam. Kelompok ini pada umumnya adalah kaum literalis dan formalis Islam (Muhaditsun/Akhbariyun), seperti Khawarij, para ulama kerajaan, para modernis dan para pengikutnya dari kalangan Wahabiyin.

2. Kelompok yang menganggap Irfan dan Tashawwuf adalah bid’ah yang diperbolehkan dalam Islam, sebagaimana kerahiban (kehidupan pastoral) dalam ajaran Kristiani. Kelompok ini berdalil dengan ayat Al Qur’an: “ Dan tentang kerahiban, mereka mengada-adakannya; padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka, kecuali untuk mencari keridoan Allah.” (QS. 57:27).

3. Kelompok ketiga, yang berpendapat bahwa Irfan atau Tashawwuf bukan hanya merupakan bagian dari ajaran Islam, bahkan keduanya merupakan intisari dan jiwa sejati dari Islam itu sendiri, yang lahir dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Sebagaimana dikatakan oleh Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi[5] “Irfan tidaklah diambil dari mazhab pemikiran dan trend lain. Aspek-aspek yang sama dalam Irfan yang dimiliki oleh Islam dan agama-agama lain, tidak dapat begitu saja dkatakan bahwa hal itu diambil dari ajaran agama lain. Namun demikian walau Muhammad Taqi Misbah Yazdi setuju dengan kelompok ketiga ini, tidak berarti ia mengabaikan apa-apa yang selama ini juga terjadi pada beberapa kelompok faktual yang mengaku mengikuti sufisme Islam, namun ternyata hanya sekedar mengadopsi unsur-unsur asing, yang beberapa pandangan dan perilakunya memang diragukan kebenarannya dari sudut pandang Islam yang sejati.

Masing-masing dari 3 kelompok tersebut akan kita bahas selanjutnya dalam paper ini, insya-Allah.

Kelompok pertama, yang menolak keislaman Irfan dan tashawuf, terlihat misalnya dari bagaimana para ‘ulama’ mengkafirkan dan menganggap sesat seorang sufi (Abu Abd al-Rahman al-Sulami) yang telah menulis tafsir al Qur’an, Haqa’iq al-Tafsir, dengan pendekatan tashawwuf. Al-Sulami dikafirkan dan dianggap sesat dan pendusta antara lain oleh Ibn Shalah, Imam Abu al-Hasan al Wahidi, Al Dzahabi, dan Ibn Taymiah[6].

Ibn Arabi (Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabi) yang menulis salah satu tafsir Sufi, Tafsir al Qur’an al Karim, dikecam dan dikafirkan oleh Syeik Muhammad Abduh. Tafsir ini dikecam dan dinisbahkan oleh Abduh kepada seorang Syiah batiniah, Al-Kasyani. Kata Abduh: ‘Di dalamnya banyak sekali penyimpangan yang terlepas darinya agama Allah dan Kitab Allah yang Mulia.” Kecaman kepadanya bergema sampai sekarang, ketika sebuah lembaga dakwah nasional (DDII ?) di Indonesia pernah menerbitkan daftar para ‘ulama sesat’ sekaligus fatwa mereka yang menegaskan kekafiran Ibn Arabi.[7]

Al-Husayn bin Mansyur al-Hallaj adalah seorang ahli ibadah yang cintanya kepada Allah menyala-nyala dan sangat mabuk dalam tashawwuf.[8] Ia diadili dengan berbagai tuduhan yang bertentangan satu sama lain. Ia dituduh telah mengaku sebagai Imam Mahdi, nabi bahkan tuhan. Ia juga dituduh pengikut Syiah ekstrem dan menganjurkan haji ke Ka’bah yang dibuat di rumahnya sendiri. Dalam pengadilan ia dibela oleh Ibn Atha yang dengan berani berkata kepada Majlis Hakim, “Apa hubungannya kalian dengan peristiwa ini? Cemaskanlah perampasan hak rakyat yang disitu kalian terlibat, pikirkanlah perbuatan kalian menindas dan membunuhi mereka. Apa hubungannya kalian dengan ucapan-ucapan orang yang mulia ini.” Ibn Atha lalu dipukuli sampai mati dengan sepatunya sebelum al-Hallaj dicambuk 1000 kali dan tubuhnya dibakar pada tahun 309 H.

Di dalam sejarah Islam di tanah air Indonesia, kita melihat bagaimana Hamzah Fanshuri, seorang sufi dan sastrawan-pujangga Islam Melayu di Aceh, dikafirkan dan ditindas oleh kerajaan dan ‘ulama’ kerajaan: Nurrudin Ar Raniry. Atau Syeikh Siti Jenar di pulau Jawa, dianggap sesat dan dibunuh oleh para ulama kerajaan di Jawa.

Kelompok kedua, meski tidak mengharamkan Irfan dan Tashawwuf, mereka masih meragukan keaslian dan kemurnian Islam dalam Tashawuf dan Irfan. Akibatnya mereka masih ragu-ragu untuk mengikuti dan mempromosikan tasawuf /Irfan. Dan menganggapnya hanyalah sebagai urusan pribadi masing-masing orang dalam berhubungan dengan Tuhan Pencipta-nya.

Kelompok ketiga, yang mengatakan bahwa Irfan dan Tashawwuf, adalah ajaran asli Islam dan merupakan intisari ajaran Islam, menurut penulis adalah yang paling mendekati kebenaran dalam hal ini, dengan catatan tertentu[9]. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Konsep ‘Irfan, Sufisme (Tashawwuf)

Sebelum membahas tentang keaslian Irfan, tashawwuf dalam ajaran Islam, maka agar terhindar dari kebingungan dan kesalahpahaman, di sini perlu didefinikan terlebih dahulu makna istilah ‘Irfan dan Sufisme/Tashawwuf.

Istilah Irfan – sebagaimana istilah ma’rifah yang berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Arab – secara literal berarti ilmu pengetahuan. Makna khususnya adalah ilmu pengetahuan tertentu yang diperoleh tidak melalui indera maupun pengalaman (empirisme & eksperimentasi), tidak pula melalui rasio atau cerita orang lain, melainkan melalui penyaksian ruhani dan penyingkapan batiniah. Kemudian fakta tersebut digeneralisasikan menjadi suatu proposisi yang bisa menjelaskan makna penyaksian dan penyingkapan tersebut antara lain melalui argumentasi rasional (misalnya dalam filsafat iluminasi (Isyraqiyah). Inilah yang disebut dengan Irfan (teoritis). Dan karena penyaksian dan penyingkapan tersebut dicapai melalui latihan-latihan (riyadah) khusus dan perilaku perjalanan spiritual tertentu (syair wa suluk) maka yang terakhir ini disebut Irfan ‘Amali (praktik Sufisme/Tashawwuf).

Istilah Sufisme (Tashawwuf), kemungkinan besar berasal dari kata shuf (wol, bulu domba) yang berarti memakai pakaian dari wol yang kasar, sebagai simbol hidup yang keras (zuhud) yang jauh dari kenikmatan duniawi. Sufisme/tashawuf lebih tepat digunakan untuk penyebutan irfan praktis (amali) sedangkan istilah ‘Irfan adalah untuk Irfan teoritis.

Keaslian Irfan & Tashawwuf dalam Islam

Menurut Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi, siapa pun yang mencermati ayat-ayat al-Qur’an, perkataan Rasulullah dan semua Ahlul Baitnya yang suci as, pasti akan menemukan banyak hal mulia dan terpuji yang berkaitan dan menjadi dasar Irfan teoritis, maupun berbagai ajaran dan instruksional praktis sehubungan dengan perjalanan spiritual para arif. Misalnya, kita bisa merujuk kepada ayat yang menerangkan tentang penyatuan dengan hakikat, sifat dan perbuatan ketuhanan dalam Surat Tauhid (Al-Ikhlas), juga dalam permulaan Surah Al-Hadid, dan akhir Surah Al-Hasyr, dll.

Ada pula ayat yang berisi petunjuk khusus yang merupakan langkah menuju perjalanan spiritual Islam, seperti ayat yang memerintahkan manusia untuk melakukan perenungan, untuk selalu ingat kepada Allah (zikir), bangun sebelum fajar dan tetap terjaga di malam hari (qiyamul lail), merendahkan diri dan tawakal di hadapan Allah SWT, menangis dan merendah ketika membaca dan mendengar ayat al-Qur’an, tulus dalam beribadah, melakukan perbuatan terpuji, mencintai Allah untuk mencapai kedekatan kepada-Nya dan untuk meraih keridhaan-Nya, maupun ayat-ayat lain yang menegaskan agar percaya kepada Allah, kepada kebahagiaan ruhani, dan penyerahan diri kepada Allah. Selain itu juga banyak pelajaran yang dapat diperoleh dari riwayat yang dinisbahkan pada Rasulullah SAW dan Para Imam Ma’shum as, dan dalam doa-doa mereka, juga dalam penyerahan diri mereka kepada Allah SWT.

Dalam pandangan kelompok ketiga ini, dari sudut pandang Islam, perjalanan spiritual (syair wa suluk) seorang arif (salik,) bukanlah suatu perjalanan yang terpisah dari aspek-aspek hukum agama (syari’ah). Bahkan Islam menganggap Irfan (Tasawwuf) sebagai bagian penting dan mendalam dari keberagamaan seseorang. Jika kita memahami syariat dari sisi luarnya, maka tarikat (Tariqah/Suluk) adalah bagian internal (intisari) dari syariat, yang bisa dimengerti hanya dengan mempelajarinya melalui persepsi syariat.

Misalnya, syariat menetapkan pandangan dan aturan tentang ibadah-ibadah ritual seperti shalat, dan tariqat (tashawuf/irfan) mengajarkan jalan untuk menghadirkan hati kita ketika shalat, serta adab-adab bathin untuk menyempurnakan ibadah kita. Dalam pandangan syariat, pelaksanaan ibadah ditujukan untuk menghindari azab Allah dan untuk memperoleh karunia berupa pahala surga, sudah dianggap cukup. Namun demikian, para arif perlu menyucikan niat untuk tidak meraih apapun selain dari Allah SWT. Inilah yang oleh para Ahlul Bait as dengan “ibadahnya orang-orang merdeka.” Demikian pula tentang syirik. Menurut syariah, yang dimaksud dengan syirik adalah adalah menyembah berhala atau yang sejenisnya. Sedangkan dalam tarikat, ada jenis-jenis syirik yang tersembunyi dalam diri manusia dan bertingkat-tingkat ketersembunyiannya. Menyandarkan harapan kepada selain Allah, meminta pertolongan selain kepada Allah, dan kecintaan selain kepada-Nya, jika tidak didasarkan kepada ketaatan terhadap perintah dan ketentuan Allah SWT, juga akan dianggap sebagai syirik.


Namun di sisi lain, banyak pula orang yang tersesat jalan, di atas jalan tasawuf, karena fanatisme buta, atau bertasawuf tanpa bimbingan guru (mursyid) yang benar, atau karena tercemari oleh penyakit-penyakit kejiwaan tertentu, atau terjebak dan tertipu setan di dalam bungkus ‘tasawuf negatif’. Oleh karenanya segala macam bid’ah dan ibadah-ibadah ritual yang tak berdasarkan syariah Islam (Al Qur’an & Sunnah Nabi) bukan hanya merupakan sesuatu yang tak dikehendaki, tapi juga bisa menjadi penghalang bagi pencapaian kearifan dan kesempurnaan yang sejati. Kita mesti berhati-hati dalam menjalani tariqah dan tasawuf ini. Harus berbekal ilmu yang cukup dan guru pembimbing yang benar dan disertai niat yang ikhlas dan kesabaran yang cukup untuk menapaki anak tangga dan maqom-maqomnya, serta berjuang keras menghindari jebakan-jebakan setan di setiap tikungannya. Wallahu ‘alam bi Shawab ** Bojong Gede, Bogor, 20 Mei 2004


[1] Materi kajian ini pernah disajikan penulis dalam acara siaran “Kaji Filsafat” di Radio 107,2 KIS FM, Jakarta Pusat, pada bulan Juni 2004

[2] Mahasiswa Pascasarjana Filsafat Islam (ICAS)-Paramadina

[3] A, Giddens, Beyond Left and Right, Cambridge, 1994

[4] Hussein Heriyanto, Proposal Short Course Ideologi, Peradaban dan Agama, Depok, 2000

[5] Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi, “Islamic Gnosis (‘Irfan) and Wisdom (Hikmat)” from Journal Al Tawheed, Vol.14, No. 3, 1997, page 21-29. Terjemahan Indonesianya oleh Anna Farida dimuat dalam Jurnal Al Huda, Vol. 1 No. 3, hal. 51-60, Jakarta 2001.

[6] Al Itqan, 4: 485. Lihat pengantar yang ditulis oleh oleh Dr. Ibrahim Bisyuni untuk Lataif al Isyarat. Kairo Markaz Tahziq at Turats, 1981.

[7] Jalaluddin Rakhmat, dalam pengantar berjudul Tafsir Sufi: Menyesatkan atau Diperlukan, untuk bukunya Tafsir Sufi Al Fatihah, Rosda, 1999.

[8] Al Hujwiri, Kasyf al-Mahjub.

[9] Namun demikian banyak juga orang atau kelompok yang mengatasnamakan sebagai kelompok atau gerakan tasawuf, namun ternyata sesungguhnya melakukan banyak penyimpangan dari syariah Islam (al-Qur’an Sunnah Nabi SAW). Inilah yang oleh M.T. Ja’fari disebut sebagai “tasawuf negatif” sebagai lawan dari “tasawuf positif” yaitu tasawuf yang benar-benar asli berasal dan bersumber dari intisari ajaran Islam. Di Indonesia banyak pula gerakan/kelompok tasawuf negatif ini. (MT Ja’fari, Tasawwuf Positif (Positive Mysticism), Jurnal Al Hikmah, edisi 5, 1992)

No comments:

...SOALAN CEPU ALIAS MENYENTAP BENAK....

Adakah Jabatan Imam Allah?

Masalah kepemimpinan merupakan salah satu persoalan yang sangat mendasar di dalam kehidupan manusia. Sejak kecil, setiap orang akan mengenal dan berinteraksi dengan persoalan ini. Kita mengenal istilah orang tua sebagai pemimpin di rumah, guru di sekolah, direktur di perusahaan, komandan di keperwiraan, kepala pemerintahan dan seterusnya. Intinya, persoalan kepemimpinan meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Ia menjadi pondasi dan tulang punggung keberlangsungan spesies manusia dimanapun dan kapanpun mereka berada. Tanpa adanya kepemimpinan, maka seluruh pilar dan sistem kehidupan manusia niscaya porak poranda atau khaos—lawan katanya adalah kosmos, yakni teratur. Hal ini sangat jelas sehingga tak perlu pembuktian lagi. Bahkan dalam skala komunitas yang paling sederhana sekalipun, kalimat “broken home” adalah istilah umum yang ditujukan bagi seorang anak yang tidak merasakan adanya figur pemimpin dirumahnya.

Pada dasarnya, makna pemimpin adalah pengatur, pembimbing, penuntun, pengawas, penegak aturan dan pemberi keputusan sehingga hubungan antara kepemimpinan dan keteraturan adalah perkara yang mustahil bisa dipisahkan. Secara esensial, penataan sekelompok masyarakat sangat bergantung pada dua kunci utama bagi terwujudnya suatu tatanan kehidupan yang harmonis, yakni adanya seperangkat aturan atau hukum dan figur pelaksananya atau penegak aturan tersebut yakni hakim. Untuk itu, munculnya kesadaran dan kebutuhan manusia bagi adanya seperangkat hukum dan keberadaan hakim adalah perkara rasional. Sedangkan penolakan atau penerimaan salah satu darinya saja adalah irasional.

Sehubungan dengan hal ini, secara garis besar agama bisa dimaknai sebagai seperangkat aturan yang diharapkan bisa menata hubungan dan perilaku manusia kepada Tuhan dan alam kehidupannya. Di setiap agama, wacana kepemimpinan adalah topik sentral yang tak bisa disepelekan terutama bagi keberlangsungan ajaran tersebut dan juga penganutnya. Saat ini, agama-agama di dunia umumnya dibagi menjadi dua kelompok. Pertama adalah agama-agama yang melandasi ajarannya berdasarkan wahyu atau “agama samawi”. Dan kedua adalah agama-agama yang melandasi ajarannya berdasarkan kebijakan dan tradisi.

Dalam kaitannya dengan studi kristologi, pembahasan komprehensif ditujukan kepada agama-agama yang mendasari ajarannya melalui wahyu Tuhan atau profetisme, yakni kenabian. Dan pada saat ini, agama-agama seperti Islam, Yahudi dan Kristen adalah ajaran-ajaran yang meyakini tentang keberadaan para nabi Tuhan. Secara substansial, kendati masing-masing agama itu punya banyak perbedaan, tapi secara umum, seluruh agama wahyu ini punya satu simpul yang sama, yaitu adanya pengakuan dari masing-masing agama tersebut bahwa Abraham [Islam: Ibrahim] adalah seorang nabi Tuhan.

Di dalam Alkitab Perjanjian Lama (Yudaisme: Tanakh), Abraham memiliki beberapa gelar yang masing-masing mencerminkan jabatan langit yang diembannya. Hal ini memposisikan Abraham sebagai orang pilihan yang mulia disisi Allah dan juga dihadapan keturunan dan para pengikutnya. Dia disebut sebagai nabi (Kej 20:7) [1], bapa sejumlah besar bangsa (Kej 17:15-16) [2], sahabat Allah (2Taw 20:7; Yes 41: 8) [3], dan yang terpenting dari semua adalah raja-imam (Kej: 12:7; 13:4) [4]. Jabatan Abraham sebagai imam Allah ini memang sangat unik dan berbeda dari kedudukan-kedudukan dia sebelumnya sehingga ada pendapat umum bahwa Kejadian 14 merupakan salah satu bab yang paling sukar dalam Kitab Kejadian.[5] Istilah “raja” dan “imam” yang selanjutnya dipadukan menjadi raja-imam mengindikasikan kepada otoritas penuh yang dijabat oleh Abraham dan keturunannya. Yakni sebagai penguasa dan pemimpin sekaligus. Hal ini otomastis berimplikasi bagi adanya suatu wilayah kekuasaan dan kepemimpinan (Kej 17:8-9) [6]. Adapun peristiwa pemberkatan Abraham sebagai Imam Alah bisa ditemukan dalam Kitab Kejadian di pasal 14:1-24. Peran Abraham sebagai pemimpin atau imam yang dipilih dan dinobatkan secara langsung oleh Allah ini—melalui perantaraan Melkisedek—adalah peristiwa yang tak dinafikan kebenarannya, baik oleh Yahudi maupun Kristen.

Secara etimologi, kata “imam” dalam bahasa Ibraninya di Authorized Version (AV) adalah kohen [7] dan nasiy [8]. Masing-masing dari kata ini di ulang sebanyak 750 kali dan 132 kali. Kedudukan ini juga menandai perjanjian atau covenant antara Abraham dan Allah yang mana melalui keturunannya itu Dia akan mengutus seorang yang diurapiNya atau Mesiah, dan akan menjadi berkat bagi seluruh bangsa di bumi (Kej 18:18).[9] Pengesahan kovenan ini ditandai dengan kewajiban penuh bagi Abraham dan keturunannya untuk mentaati hukum-hukum Ilahi berdasarkan prinsip kebenaran dan keadilan.[10]

Untuk itu, kendati sudah ada tiga jabatan langit yang diberikan kepada Abraham, yakni sebagai nabi atau rasul dan kedudukan khususnya sebagai sahabat Allah. Namun masih ada satu jabatan langit terakhir yang tertinggi, yakni sebagai imam Allah. Kedudukan ini juga dianugerahkan kepada Abraham dan keturunan biologisnya. [11] Adapun dari segi pelaksanaan bahwa meskipun jabatan imam Allah ini munculnya belakangan, namun inti dari ajaran Allah kepada manusia itu sendiri sebenarnya baru bisa direalisasikan, apabila hukum-hukum tersebut telah selesai disyariatkan oleh para nabi. Dan setelah itu, syariat ini akan ditegakkan oleh imam-imam Allah yang berasal dari keturunan biologis Abraham. Fakta ini jelas sangat rasional karena tak ada hakim kecuali setelah adanya hukum. Dan hukum pun mustahil bisa ditegakkan kecuali setelah adanya para hakim.

Pada dasarnya, jabatan imam Allah merupakan satu-satunya jabatan tertinggi dan tunas dari “Pohon Kejadian” yang menjadi tujuan atas penciptaan manusia di bumi. [12] Sedangkan kenabian atau kerasulan adalah cabang dari “Pohon Kejadian” tersebut. Artiya, institusi ilahiah ini secara gradual diawali oleh keimaman—yang menduduki puncak dari hierarki rububiyah itu, kemudian disusul dengan kerasulan atau kenabian. Sedangkan penampakan atas jabatan imam Allah di alam dunia (syahadah) secara hierarki adalah kebalikan dari hakekatnya di alam sorgawi (ghayb). Di alam dunia, kemunculan jabatan-jabatan langit ini diawali lebih dahulu dengan kenabian, kerasulan dan imamah.

Setelah Ibraham wafat, jabatan-jabatan ini terus diwariskan melalui keturunan biologis Ismail dan Ishak yang mana keduanya adalah nabi. Dalam Alkitab dinubuatkan bahwa dari Ismail dan keturunannya akan muncul duabelas orang imam “Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas imam, [13] dan Aku akan membuatnya menjadi umat [14] yang besar (Kej 17:20). Kondisi serupa juga ditampakkan kepada bangsa Israel pada zaman Musa as yang mana dia telah diperintahkan oleh Allah untuk melantik duabelas orang imam yang dikepalai oleh Harun dan keturunannya (Bil 17:1-13). Pelantikan para imam Allah ini menandai kesempurnaan RisalahNya dan puncak dari kovenan antara Allah dan para nabi yang ditugaskan untuk menyampaikan AjaranNya kepada manusia. Bahkan fungsi utama dari pengutusan seorang nabi atau rasul itu adalah untuk menegakkan kerajaan imam dan umat yang kudus.Alkitab dan Al-Qur’an menyatakan:

“Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel. (Keluaran 19:5-6)

“Dan ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu, dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh”. (QS. 33:7)

Sedangkan mengenai perjanjian [mitsaq] yang dimaksudkan itu, maka Al-Qur’an menjelaskan lagi, “Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin” (QS. 5:12).

Alhasil, substansi yang ingin ditegaskan dalam pengantar yang ringkas ini bahwa status seorang imam di dalam agama Ibrahimik—menurut tinjauan kristologi—itu memang ada dan dipilih secara mutlak oleh Allah sebagaimana halnya kenabian dan kerasulan. Artinya tidak melalui konsensus. Imam Allah adalah jabatan sorgawi yang kudus dan tidak terbentuk melalui mekanisme pemilihan umum ataupun cara-cara lain yang dilandasi oleh perspektif manusia. Sungguh tidak mengherankan bila Al-Qur’an sendiri pernah menegaskan bahwa keluarga Ibrahim as telah dianugerahi suatu kerajaan yang besar.

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar”. (QS. 4:54)

Secara historis, pena sejarah umat manusia belum pernah mencatat bahwa keluarga Ibrahim ada yang mendirikan monarki keluarga, misalnya seperti Ibrahimiyah, Ismailiyah, Ishakiyah, Yakubiyah, Yusufiyah, Musaiyah atau Haruniyah dan lain sebagainya. Hal itu disebabkan keluarga Ibrahim lebih dikenang sebagai mata airnya kenabian, kerasulan dan imamah. Jika demikian, maka kerajaan besar apakah yang dimaksudkan oleh al-Qur’an itu? Apabila hal ini tidak merujuk kepada mamlakah kohen atau kerajaan imam,[15] tentu akan sulit menemukan makna yang sebenarnya dari ayat tersebut. Lalu, apabila keluarga Ibrahim telah diwariskan kerajaan besar oleh Allah, maka bagaimanakah dengan nasib keluarga Muhammad saw sendiri? Artinya, apakah mungkin dari keturunan Muhammad saw ini akan ada yang menjadi imam-imam Allah seperi yang pernah terjadi di masa para nabi terdahulu yang berasal dari keluarga Ibrahim? Dan apabila jumlah para imam dari keluarga Ibrahim as ini selalu duabelas orang, maka mungkinkah jumlah para imam dari keluarga Muhammad pun juga demikian?

Sebagai penutup, barangkali hadis Nabi saw yang pernah diriwayatkan dalam Sahih Bukhari[16] ini bisa membawa kita kepada kontemplasi mendalam yang selaras dengan pendewasaan beragama. “Jabir ibn Samurah mengatakan, ‘Saya mendengar Nabi berkata: “Akan ada duabelas pemimpin setelah saya.” Kemudian mengatakan, “Saya mendengar ayah saya mengatakan ia mendengar Nabi berkata, “Mereka berasal dari suku Qurays”’”. Wallahu’alam.

Catatan Kaki:

[1]“Jadi sekarang, kembalikanlah isteri orang itu, sebab dia seorang nabi;”.

[2]“Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya”.

[3] “Bukankah Engkau Allah kami yang menghalau penduduk tanah ini dari depan umat-Mu Israel, dan memberikannya kepada keturunan Abraham, sahabat-Mu itu, untuk selama-lamanya?”; Dan juga “Tetapi engkau, hai Israel, hamba-Ku, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, yang Kukasihi;”.

[4] ”Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: ‘Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.’ Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya”; Dan juga “ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN”.

[5] Lembaga Biblika Indonesia, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, disunting oleh Dianne Bergant, CSA dan Robert J. Karris, OFM (Jakarta: Penerbit Kanisius, 2002) hal. 52.

[6] “Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.’ Lagi firman Allah kepada Abraham: ‘Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun”.

[7] Kata kohen artinya imam atau pendeta (priest), orang yang memiliki (own), penguasa tertinggi (chief ruler), pejabat (officer), pangeran atau putra mahkota (princes).

[8] Kata nasiy’ atau nasi’ artinya pangeran atau putra mahkota (prince), kapten (captain), ketua (chief), penguasa (ruler), beruap atau menguap (vapours), gubernur pemerintahan (governor), awan (clouds), bagian (part). Secara definisi adalah orang yang ditinggikan (one lifted up) atau imam (leader) dan uap yang terangkat, yakni selalu meninggi dari lainnya (raising mist).

[9] “Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku”.

[10] “Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” (Kej 18:19).

[11] Bandingkan juga beberapa kedudukan Nabi Ibrahim as yang disampaikan dalam Al-Qur’an, yaitu: Pertama, sebagai nabi “Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat benar dan seorang Nabi”. (QS. 19:41). Kedua, ayat al-Qur’an ini memaparkan dua sisi, yaitu kedudukan Ibrahim as sebagai rasul dan juga moyang bagi sejumlah besar bangsa yang mana keturunannya itu akan mewarisi jabatan kenabian dan kerasulan “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan Al Kitab, maka di antara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak di antara mereka yang fasik”. (QS. 57:26). Ketiga, sebagai khalil atau sahabat Allah “Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya”. (QS. 4:125). Keempat, sebagai imam “Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhanya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata: ‘dan dari keturunanku.’ Allah berfirman: ‘JanjiKu tidak mengenai orang-orang yang zalim’”. (QS. 2:124).

[12] “Manusia adalah puncak dari seluruh penciptaan. Kelebihan ciptaan ini digarisbawahi oleh kenyataan bahwa hanya manusialah yang diciptakan menurut “gambar” atau “rupa Allah”. [Dikutip dari Lembaga Biblika Indonesia, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, disunting oleh Dianne Bergant, CSA dan Robert J. Karris, OFM (Jakarta: Penerbit Kanisius, 2002) hal. 35]. Bandingkan dengan ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang kedudukan manusia sebagai khalifah Allah dimuka (QS. 2:30) dan hadis Nabi saw yang mengatakan bahwa Adam diciptakan dari citranya.

[13] Saya sengaja mengganti kata “raja”—seperti yang ada diterjemahan Alkitab LAI—dengan kata “imam”, karena kata “raja” adalah terjemahan yang tidak tepat. Dalam bahasa Ibrani kata “raja” adalah melek, sedangkan Authorized Version (AV) tidak menyebut kata tersebut di ayat ini melek (raja) tapi nasiy’ (imam). Yakni suatu posisi atau jabatan langit tertinggi yang berasal dari Allah saja. Kedudukan ini juga diikrarkan kembali pada zaman Musa, sewaktu Allah memerintahkannya untuk mengangkat duabelas orang pemimpin atau imam dari kalangan bangsa Israel (Bdk. Bil 17:1-6). Seluruh kata yang diterjemahkan “pemimpin” di ayat tersebut di dalam AV adalah nasiy’, persis seperti kedudukan yang diberikan kepada keturunan Ismail di Kej 17:20.

[14] Saya sengaja mengganti kata “bangsa”—seperti yang diterjemahkan dalam Alkitab bahasa Indonesia—dengan kata “umat”, karena kata asli di teks Ibraninya adalah goy yang dalam bahasa Inggris bisa diterjemahkan nation dan people. Walaupun demikian, pengunaan kata “bangsa” bukan berarti keliru, hanya saja dalam kajian mesianisme Yahudi, mereka sering mengaitkan hal ini dalam konteks kebangsaan atau keturunan biologis mereka saja (nationality) yakni partikular. Sedangkan dalam mesianisme Kristen, para penafsirnya telah melepas arti “keturunan biologis” Ibrahim ini sepenuhnya dan menguniversalkan maknanya (people). (lih. Ro 4:16; Ga 3:29). Padahal, janji Allah ini memang terkait dengan kedua sisi tersebut yakni kebangsaan dan juga manusia secara umum.

[15] “Dan Kami jadikan di antara mereka itu imam-imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”. (QS. 32:24; 21:73; 28:5).

[16] Sahih Bukhari, bagian 9, “Kitab al-Maqadam”, hal. 1000. Sementara dalam Musnad Ahmad diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa ia bertanya kepada Nabi tentang para khalifahnya. Beliau berkata, “Mereka duabelas orang seperti suku bani Isra’il yang dua belas.” (Musnad Ahmad, Jilid 1, hal. 398).